Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

14 Agustus 2007

Pendidikan Bermutu di Tengah Pentas Budaya Instan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.

Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.

Pendidikan Cenderung Dibisniskan.

Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat.

Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.
Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi.

Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?

Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.

Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.

Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.

Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.

Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."

Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.
sumber : www.e-dukasi.net



READ MORE - Pendidikan Bermutu di Tengah Pentas Budaya Instan

01 Februari 2007

Model Pendidikan Abad 21


MODEL PENDIDIKAN DUNIA ABAD KE-21

Pendidikan dunia abad ke-21, menghendaki segala aktivitas pendidikan diorientasikan kepada:

Pertama: Learning how to think (belajar bagaimana berfikir), dengan mendasarkan kesepahaman bahwa manusia adalah makhluk berpikir/berbudaya (homo sapiens) maka proses perkembangan kemampuan berpikirnya harus diolah sejak dini dan berkesinambungan sehingga mencapai tingkat peradaban tertinggi dalam sejarah pemikiran manusia. Diharapkan pada milenium ketiga ini, akan wujud suatu kondisi kesetaraan antara local genius dalam kerangka global genius. Dengan demikian setiap negara di dunia memiliki utusan yang representatif dan comprehensif dalam dinamika pergaulan para ilmuan antar bangsa .

Kedua: Learning how to do (belajar bagaimana berbuat). Menindak lanjuti kesetaraan kemampuan berpikir, diharapkan segala hasil pemikiran yang berkembang menjadi teori atau kaidah keilmuan terus merujuk kepada kreasi bersama seluruh bangsa sehingga tingkat peradaban melenium kini adalah milik bangsa-bangsa seluruh dunia. Bermakna bukan dominasi satu bangsa saja sebagaimana telah terjadi selama ini. Segala hasil pikir harus dapat direalisasikan bagi kebajikan umat manusia dunia, bukan sekedar proposal yang menumpuk dan tidak pernah ada realisasinya.

Ketiga: Learning How to be (belajar bagaimana menjadi diri sendiri). peningkatan kualitas berpikir dan berbuat dalam skala global tetap memperhatikan ciri khas masing-masing bangsa. Spesifikasi karakteristik antar bangsa seperti inilah yang diharapkan membuat dunia menjadi penuh warna yang indah. Masing-masing bangsa memiliki kemandirian dalam mengelola masyarakat bangsanya serta teritorial tempat tinggalnya tanpa mengesampingkan kepentingan-kepentingan bangsa antar bangsa di dunia.

Keempat: Learning How to learn (belajar bagaimana belajar). Belajar dari pengalaman yang sudah lewat merupakan aksentuasi dari makna di atas. Segala aktifitas pendidikan harus mampu menghasilkan manusia yang pandai mensyukuri sejarah kemanusiaan. Karena sejarah adalah peristiwa hidup manusia masa lampau yang amat berharga bagi masa kini dan masa hadapan. Dengan menguasai sejarah, kita dapat meningkatkan kebajikan yang telah dicontohkan dan sekaligus menghindari kerusakan hidup yang terjadi pada masa yang telah lewat. Pengalaman adalah guru yang amat bijaksana. Historia vitae magistera.

Kelima: Learning how to life together (belajar bagaimana hidup bersama). Titik kulminasi visi pendidikan dunia abad ke-21 adalah bagaimana masyarakat dunia antar bangsa dapat hidup bersama dengan penuh toleransi dan damai. Asas berpikir, berbuat, menjadi diri sendiri dan memahami sejarah kemanusiaan adalah pilar-pilar kehidupan yang diharapkan mampu membangun atap perdamaian dunia yang penuh dengan toleransi dan cinta kasih. Itulah cita-cita pendidikan dunia abad ke-21.







READ MORE - Model Pendidikan Abad 21

26 Januari 2007

Pendidikan Kunci Persaingan


PENDIDIKAN KUNCI PERSAINGAN MASA HADAPAN

Keadaan dunia hari ini sangat berbeda dengan keadaan dunia beberapa tahun lalu. Di era globalisasi atau yang sering disebut era perdagangan bebas abad 21 ini ditandai dengan maraknya persaingan di berbagai bidang, baik dalam dunia perindustrian, komunikasi, perekonomian maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan teknologi saat ini dapat dikatakan menjadi ukuran kemajuan sebuah bangsa. Dengan kata lain, jika suatu bangsa telah menerapkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, maka bangsa tersebut dapat dikatakan sebagai bangsa yang maju. Dan perkembangan dunia hari ini cenderung dikuasai oleh bangsa maju yang nota-benenya adalah bangsa-bangsa berat seperti Amerika Serikat, Jepang, Perancis, Jerman, dll. Mereka telah menguasai sebagian besar perkembangan teknologi dan perekonomian dunia. Kemampuan mereka mencapai prestasi seperti itu dikarenakan keberhasilan mereka di berbagai bidang aspek kemajuan, terutama kemajuan ilmu dan teknologi, sehingga dengan ilmu dan teknologi mampu memberikan kekuatan yang berarti dalam kehidupan secara individu maupun berkelompok, sehingga mampu menguasai perjalanan sejajar dunia.

Kita dapat mengambil contoh bangsa Jepang. Saat ini Jepang telah menjadi bangsa termaju no. 2 setelah Amerika Serikat. Di berbagai sisi kehidupan di Jepang, hampir tidak terlepas dari penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Jepang mulai bangkit dan meneraju dengan perkembangan iptek-nya yang canggih. Jika kita lihat sejarah, pada tahun 1945, Jepang porak-poranda dihantam bom atom sekutu. Kalau itu Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Bersamaan menyerahnya Jepang, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Secara perlahan Jepang mulai menata diri, terutama sisi pendidikannya. Dari tahun ke tahun perjalanan pendidikan Jepang mengalami peningkatan. Peningkatan itu diikuti bidang-bidang lainnya. Berbagai penemuan dalam bidang teknologi, membuat Jepang semakin diperhitungkan oleh negara-negara lain di dunia. Bahkan Amerika Serikat “geleng-geleng kepala” melihat kemajuan Jepang yang begitu pesat.

Berangkat dari apa yang dilakukan Jepang, bangsa Indonesia juga dapat melakukan langkah-langkah seperti Jepang, jika bangsa Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju. Sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia harus berani mereformasi diri dalam makna reformasi yang sebenar-benarnya dan seluas-luasnya, yakni di berbagai sektor yang ada, terutama sektor pendidikan. Berawal dari titik itu, bangsa Indonesia memulai kehidupan baru untuk menata bangsa menuju Indonesai yang kuat (Indonesia Must Be Strong), sehingga akan lahir sumber daya manusia yang handal.

Apabila kita telah mempunyai pendidikan baik dan sumber daya manusia yang handal, kita dapat mengelola sumber daya alam (SDA) yang ada dengan baik dan sempurna demi kesehjateraan rakyat Indonesia. Sehingga, perlahan namun pasti bangsa Indonesia akan dapat duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa maju lainnya seperti Amerika, Jepang, Jerman, dll. Namun jika Indonesia gagal menata pendidikannya akan berakibat gagalnya generasi angkatan pertama (umur 0-14tahun) dan angkatan kedua (umur 15-20 tahun). Sudah barang pasti 20 tahun mendatang nasib bangsa Indonesia tidak dapat dibayangkan betapa nistanya di pergaulan antar bangsa. Atau mungkin Indonesia hanya akan menjadi kenangan sahaja. Tentunya kita tidak ingin tanah air kita tercinta ini menjadi “fosil”

Untuk itu, bangsa Indonesia harus menangani pendidikannya secara tepat dan serius. Jika budaya pendidikandibangun dengan serius, budaya bangsa Indonesia akan menjadi budaya cinta kesatuan dan persatuan, mendahulukan urusan negara dan bangsanya daripada urusan pribadi dan golongan, sehingga generasi muda Indonesia terdidik akan mempunyai etos kerja yang tinggi, dan akan menjadi bangsa yang mandiri.





READ MORE - Pendidikan Kunci Persaingan

04 Januari 2007

Pendidikan


Solusi Mengantar Generasi Melangkah Maju

Kemajuan suatu bangsa sangat ditunjang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Sumber Daya Manusia yang berkualitas itu hanya dapat diperoleh melalui sistem pendidikan yang baik yakni suatu sistem dimana terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan dan harus saling mendukung. Maka pendidikan tidak dapat berjalan sendiri melainkan harus melalui langkah yang berkesinambungan dalam rentang waktu yang tidak terbatas. Sehingga dapat menciptakan suatu peradaban yang agung, maju di bidang sains dan teknologinya serta mampu menciptakan kebudayaan luhur yang berdampak positif: mampu bersaing di tataran internasional.

Jika dilihat ke belakang, perjalanan pendidikan modern di Indonesia sudah berlangsung lebih dari 100 tahun yang dimulai ketika Belanda menciptakan politik etis. Masa seratus tahun itu tentulah bukan waktu yang sebentar, tetapi kenyataannya sampai sekarang hasilnya belum optimal. Sumber Daya Manusia masih kalah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia maupun Thailand. Rendahnya SDM ini pastilah sangat berpengaruh terhadap mentalitasnya, terbukti dengan makin meningkatnya angka kriminalitas dan maraknya demontrasi yang acapkali dibarengi dengan kerusuhan.

Lalu pertanyaan yang mengemuka, bagaimana sebenarnya sejarah pendidikan kita selama 100 tahun itu bisa berdampak seperti sekarang dan bagaimana seharusnya pendidikan di Indonesia ini agar dapat menghasilkan Out put yang berkualitas sehingga makna pendidikan modern benar-benar tercermin dengan jelas?

Bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 3.5 abad. Penjajahan Belanda ini tentulah amat merugikan rakyat Indonesia karena sebagai bangsa kita tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. namun ada satu nilai positif yang kita dapatkan dari pemerintah Belanda, negeri Ratu Yuliana inilah yang juga telah menjadi pelopor berkembangnya sistem pendidikan modern di Indonesia.


Sejarah Pendidikan di Indonesia

Pada awalnya rakyat Indonesia yang ingin menuntut ilmu hanya bisa belajar di surau-surau yang akhirnya berkembang menjadi pesantren, tempat para santri berkumpul, menginap, menerima pendidikan dan pengajaran. Bidang studi yang diajarkannya pun hanya terfokus pada pelajaran agama dan bahasa Arab dengan guru-guru yang selalu memberikan suri tauladan yang baik dalam mendidik. Bahasa pengantar yang digunakan pun masih bahasa Jawa atau Melayu. Di satu sisi pendidikan yang diterapkan saat itu sangat baik untuk membangun moral anak didik. Tetapi SDM yang dihasilkan akan sangat terbatas kualitasnya dan tidak akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa di dunia.

Pola pendidikan ini terus berjalan, sampai kemudian kelompok liberal-para cendikiawan Belanda mencetuskan ide politik etis yang mencakup edukasi, iragasi dan transmigrasi. Merealisasikan dari tujuan edukasi, pemerintah Belanda mengadakan program pendidikan berjenjang dengan klasifikasi dari tingkat rendah, menengah dan tinggi. Pola itu menandakan pendidikan di Indonesia mulai terprogram dengan rapi. Dari sini lahirlah kalangan terpelajar yang memegang peranan penting bagi bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.

Sayangnya, pada saat itu pendidikan hanya diperuntukan bagi orang-orang tertentu saja dan tidak bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hanya anak-anak priyayi saja yang bisa merasakan nikmatnya pendidikan yang tujuannya hanya untuk menghasilkan tenaga terampil bagi kepentingan administrasi pemerintahan Belanda. Akibatnya selama setengah abad perjalanan pendidikan modern yang diterapkan Belanda itu sebagian besar bangsa kita masih buta aksara.

Anehnya, tanpa disadari hingga saat ini rakyat Indonesia masih menggunakan nilai-nilai pendidikan yang terprogram Belanda tersebut yaitu untuk menghasilkan tenaga kerja terampil sehingga setelah lulus bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Bukan untuk meningkatkan SDM-nya yang dapat mengolah Sumber Daya Alam (SDA) dan mampu mengubah tatanan masyarakat sejajar dengan negara maju dan ini terjadi pada sebagian besar generasi kita.

Akibatnya SDM yang dihasilkan adalah SDM yang bobrok karena kurangnya kepedulian terhadap pendidikan. Secara garis besar, rakyat Indonesia hanya berpendapat bahwa belajar atau sekolah hanya untuk kerja, cari uang dan cari kekuasaan. Bahkan sekolah-sekolah yang terkenal elite pun hanya bervisi agar anak didiknya menjadi out put yang berkualitas dalam bekerja. Jika sekolah elite saja seperti itu, bagaimana dengan sekolah-sekolah yang kurang berkualitas baik fasilitasnya ataupun gurunya. Pastilah out put yang dihasilkan lebih parah.

Selain itu lingkungan pendidikan yang merupakan salah satu unsur pendidikan juga kurang mendukung kemajuan satu unsur pendidikan juga kurang mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia. Sebagai contoh dalam pendidikan formal, seorang anak yang sekolah, mungkin sekolahnya kurang baik masih bisa diawasi selama masih berada di lingkungan sekolah. Tetapi apa yang terjadi setelah ia pulang? Lingkungan yang ada di sekitarnya belum tentu mencerminkan kebiasaan yang baik pada anak itu. Bahkan sekarang yang sering kita temui justru anak-anak broken home tentunya tidak mendapat pendidikan yang baik dari keluarganya yang akhirnya lari pada hal-hal yang melanggar peraturan, hukum bahkan susila.


Peranan Pemerintah Dalam Pendidikan

Melihat realita ini pemerintah harus mengambil kebijakan yang terbaik, dengan menentukan visi yang jelas untuk mengangkat derajat bangsa. Karena hanya generasi yang berkualitas yang bisa mengangkat derajat bangsanya. Generasi yang berkualitas adalah generasi yang berintelektual tinggi, berteknologi canggih, berjiwa besar dan berbudi pekerti luhur. Maka pemerintah harus bisa mengajak semua komponen bangsa bersatu untuk mencapai visi tersebut.

Selain itu pemerintah harus berani mengubah sistem pendidikan termasuk kurikulumnya, misalnya dengan cara memberikan otonomi pada setiap institusi pendidikan agar bisa menerapkan sistem yang mandiri, bebas dan terkontrol. Mandiri artinya setiap institusi pendidikan harus berusaha berlomba-lomba menciptakan sistem pendidikan yang terbaik agar terjadi persaingan yang sehat. Bebas berarti tidak lagi berpikiran sempit dan tidak dibatasi serta berani mencoba tantangan-tantangan baru atau bahkan mencoba membuat suatu gebrakan dengan penemuan-penemuan baru di bidang teknologi. Terkontrol artinya dengan tetap memperhatikan pendidikan moral dan tetap dalam pengawasan pemerintah.

Di bidang non formal (luar sekolah) pemerintah hendaknya berusaha mendidik masyarakat atau lingkungan agar berdisiplin, bermoral, cinta damai dan toleran. Dalam hal ini suri tauladan yang baik dari orang tua, pemimpin, pemuka agama, tokoh masyarakat dan bahkan pers amatlah diperlukan. Jadi, pendidikan moral tidak hanya menjadi materi pembelajaran di sekolah saja, tetapi benar-benar terealisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya dengan berbagai permasalahan yang ada itu pendidikan yang semestinya diterapkan di Indonesia pada saat ini adalah pendidikan yang tepat zaman, dimana sistem, sarana, fasilitas, peran aktif seluruh pihak dan berhubungan dengan luar negeri berjalan baik agar derajat bangsa terangkat sehingga dapat turut serta dalam dunia persaingan internasional. Jika ini bisa direalisasikan, rasanya kita tak akan malu mengangkat wajah di dunia internasional.

Baca Juga
READ MORE - Pendidikan