Tampilkan postingan dengan label Hkmah dan motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hkmah dan motivasi. Tampilkan semua postingan

27 September 2009

Ikhlas adalah Default Factory

Sesungguhnya dari sananya manusia sudah dilahirkan dengan default factory setting yang sangat hebat, diberi fitrah yang murni dari ilahi, tapi manusia sendirilah yang senang mendiskonnya sehingga kesempurnaannya menjadi berkurang. ini akibat berbagai pengalaman hidup dan ketidaktepatan berpikir atau prasangka (judgment) sehingga hidupnya pun penuh dengan kesulitan. Hal tersebut pun sudah diingatkan dalam al-qur’an

Dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka

(Qs. Al Ahzab:10)

Sesungguhnya prasangka itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran

(Qs. Al Ahzab:10)

Oleh karena berbagai “virus” prasangka dan pikiran negatif yang tanpa disadari merasuk kedalam hatinya, manusia berangsur-angsur lupa akan sifat kesempurnaan yang berupa kebaikan, kelebihan, kekuatan, dan potensi dirinya. Karena law of Attraction terus menghadirkan “bukti nyata akan keyakinannya” akhirnya manusia justru lebih ingat akan sifat ketidaksempurnaan seperti keburukan, kekurangan, kelemahan, dan ketidakmampuannya.

Contoh:

Manusia cenderung tidak percaya atau tidak yakin pada :

  • Hidup itu nikmat dan menyenangkan dan karenanya hanya pantas disyukuri
  • Rezeki sudah diatur cukup dan tidak ada perlu yang kekurangan
  • Tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri
  • Pikiran dan perasaan lebih kuat dari tindakan
  • Manusia bisa mengubah hidup dengan mengubah pikiran dan perasaannya
  • Ikhlas (berserah diri) kepada Tuhan itu mudah dan menyenangkan

Manusia cenderung lebih percaya atau yakin bahwa:

  • Hidup itu susah dan penuh penderitaan
  • Rezeki itu susah dan selalu tidak cukup
  • Jika dokter mengatakan “x” tentang kesehatan saya maka itu pasti benar “x”
  • Lebih banyak orang jahat daripada orang baik
  • Memelihara perkawinan itu susah
  • Hidup seperti Judi dan kita lebih sering kalah
  • Ikhlas (berserah diri) itu susah dan sangat sulit dilakukan

Oleh karena kualitas hidup manusia ditentukan oleh kualitas keyakinannya maka kemampuan untuk mengelola software keyakinan kita adalah sangat penting.

Untungnya “kesempurnaan” adalah fitrah atau default factory setting manusia. Sehingga meskipun sempat kacau, semuanya masih utuh tersimpan didalam diri kita. Untungnya lagi, karena error-nya hanya terlupa (forgot password) maka yang diperlukan untuk menyempurnakan diri hanyalah dengan “mengingat kembali” (ask for new password) sifat-saifat kesempurnaan itu. Dan yang menakjubkan, ketika lost files kesempurnaan itu berhasil anda temukan lagi lewat search engine yang tersedia. Setelah di restart, komputer hayati anda akan segera running sesuai dengan fitrahnya kembali pada default factory setting-nya yang sempurna.

Sumber : Buku Quantum ikhlas hal 37

READ MORE - Ikhlas adalah Default Factory

30 Desember 2007

Sukses Hidup Dunia dan Akhirat



Hampir semua orang memiliki impian menjadi orang yang berhasil dalam hidupnya bahkan setiap habis shalat selalu berdo'a Rabbana attinna fidunnya hasanah wafila'hirati hasanah waqina adza bannar. yang artinya : Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat.

Namun tidak sedikit mereka kesulitan menemukan jalan menuju impiannya. Beberapa cara dicoba mulai dari mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dikumpulkan, ternyata ada 5 faktor dasar yang menentukan kesuksesan hidup seseorang. kelima faktor tersebut adalah:

1. Keyakinan
Banyak sekali sudah diulas oleh para ahli psikologi mengenai kekuatan suatu keyakinan dalam menuntun kesuksesan hidup seseorang. Ada suatu pkitangan yang menarik untuk kita simak, bahwa "Allah akan mengikuti prasangka hambanya". Artinya, bahwa ketika kita sendiri tidak memiliki keyakinan akan menuju atau menjadi apa nantinya, maka Allah tidak akan memberikan bimbingannya kepada kita menuju ke arah yang kita inginkan. Namun, bila kita memiliki suatu tujuan yang jelas dan kita yakin akan mampu mencapainya, maka Allah akan memberikan bimbingannya kepada kita menuju kearah tersebut. Disisi lain hampir semua energi yang ada di dalam diri kita akan menarik energi yang sama dari luar kita menuju kearah yang kita inginkan.

2. Kemauan
Apapun yang kita impikan atau rencanakan tanpa didukung dengan kemauan, niscaya kita tidak akan pernah berhasil mengapainya. Kemauan merupakan energi potensial yang akan mengerakkan semua potensi yang ada dalam diri kita untuk meraih apa yang diinginkan.

3. Kemampuan
Kemampuan terdiri dari kemampuan teknis maupun kemampuan non teknis. Kemampuan teknis, misalnya kita memiliki kemampuan dalam memproduksi suatu barang atau jasa. Sedangkan kemampuan non teknis bisa berupa kemampuan dalam mengkomunikasikan sesuatu yang kita miliki, bisa juga berupa kemampuan dalam mengelola sumberdaya yang ada disekeliling kita

4. Kesempatan
Setiap orang memiliki kesempatan yang sama, namun yang membedakan adalah bagaimana cara menilai, menyikapi dan memanfaatkannya. Bila kita sudah memiliki ke-3 faktor diatas, maka kita akan mampu untuk menciptakan kesempatan yang baik untuk mewujudkan "mimpi" kita semua. Selain kita mampu menciptakan kesempatan buat mewujudkan mimpi kita, bisa jadi kita akan memperoleh kesempatan yang datang dari luar diri kita. Dengan berbekal ke-3 faktor di atas, yakinlah bahwa kita akan dapat memanfaatkan kesempatan yang datang tersebut dengan sebaik-baiknya

5. Do’a
Tanpa didasari dengan doa semua yang kita kerjakan adalah sia-sia artinya bisa aja sukses tapi tidak akan mendapat berkah dari Allah. (alias sombong) ada istilah mengatakan doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong.

arti sukses secara keseluruhan adalah selamat di dunia dan akhirat. Allah berfirman :

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."



READ MORE - Sukses Hidup Dunia dan Akhirat

17 Desember 2007

Kekuatan itu dari Allah


Kesadaran akan keterlibatan Allah bukan suatu alasan yang menyebabkan kita malah malas. Tidak berusaha karena hanya berharap pada takdir Allah. Justru seharusnya hal ini menjadi suatu dorongan kuat bagi kita. Inilah yang akan menjadi motivasi kita. Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari kesadaran kita akan keterlibatan Allah, yaitu:

Kekuatan
Siapa yang bisa melawan takdir Allah? Jika kita ditakdirkan berhasil siapa yang bisa mencegahnya? Berlaku juga untuk sebaliknya kalau kita ditakdirkan untuk kecewa atau sedih meski kita tidak melakukan apa-apa, kekecewaan atau kesedihan pasti menghampiri kita. Sehingga tidak ada pilihan bagi kita kecuali untuk berusaha.

Sabar
Orang yang meyakini akan takdir Allah, dia akan selalu sabar setiap musibah menimpanya, karena semuanya dari Allah. Dia akan menyambut musibah itu dengan tegar, setegar gunung atau setegar karang diterjang ombak laut. Tanpa goyah sedikit pun. Sungguh indah apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib r.a.: “Hai bapak Fulan, sesungguhnya jika engkau bersabar, engkau telah melewati takdirmu, dan engkau mendapatkan pahala. Tetapi sekiranya engkau bersedih hati, sesungguhnya takdir tetap saja berlaku, dan engkau mendapatkan dosa.”
Landasan Ayat : Qs 13/22

Ridha dan Qana’ah
Kita akan ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan qanaah akan rezeki yang Dia berikan kepada kita. Sehingga kalau kita sudah berusaha tetapi takdir bicara lain, kita akan ridha dengan kegagalan yang dia alami, karena semua dari Allah. Tidak ada alasan untuk tidak ridha. Pengaruh dari sikap ini dia akan bersungguh-sungguh mencari rezeki dan dengan cara yang benar.

Menerima Apa Adanya
Orang yang yakin dengan takdir, dia akan menerima apa yang diberikan Allah kepadanya. Sikap ini akan melahirkan kekuatan jiwa, tidak akan kecewa, sedih, putus asa, dan sikap-sikap cengeng lainnya. Dia yakin apa yang terjadi pada dirinya adalah yang terbaik bagi dia.

Memiliki Harga Diri
Orang yang yakin akan takdir Allah akan memiliki harga diri karena yakin apa yang dia miliki bukan berasal dari manusia tetapi dari Allah semata. Jika pun ada peran manusia, itu hanya sebagai perantara saja. Harga diri ini akan menjadi sumber kekuatan luar biasa, sehingga dia bisa mencurahkan segenap potensinya.
Referensi : Qs 9/20 , 49/15

Berjiwa Tenang dan Damai
Orang yang yakin akan takdir, akan yakin pula bahwa segala musibah tidak akan membuatnya takut dan ciut. Dia tenang terhadap apapun yang akan dan telah terjadi karena semua kehendak Allah. Dia tidak akan ragu melakukan apapun karena hasil adalah keputusan Allah setelah dia berusaha. Dia tidak akan menyesali masa lalu, dia yakin dengan masa kini, dan berani menghadapi hari esok.

Berorientasi ke Depan dan Doing The Best
Orang yang yakin akan kekuatan Allah, sabar, ridha, qana’ah, menerima apa adanya, memiliki harga diri, tenang, dan damai terhindar dari penyesalan masa lalu, berani menghadapi realitas, bebas dari rasa pesimis, dia tidak mendapatkan jalan lain kecuali berorientasi ke depan menuju yang lebih baik, bertumbuh, dan melakukan pekerjaan sebaik mungkin.
Landasan Ayat : Qs 59/18

sumber ; motivasi-islami.com

READ MORE - Kekuatan itu dari Allah

12 Agustus 2007

Jembatan Menuju Impian & Kesuksesan


JEMBATAN MENUJU IMPIAN & KESUKSESAN

Coba bayangkan saat kita berdiri di pinggir suatu sungai yang besar, yang tidak mungkin kita melaluinya dengan cara meloncat, apalagi melangkah. Sementara kita sangat memerlukan atau menginginkan untuk dapat melaluinya. Bagaimana perasaan kita saat menemukan sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sungai itu?

Saat kita menginginkan sesuatu yang agak sulit untuk dicapai, maka kita perlu sebuah jembatan yang menuju kepada apa yang kita inginkan. Keinginan kita, insya Allah, akan jauh nampak lebih mudah jika sudah terbentang jembatan yang menghubungkan antara kita pada kondisi sekarang dengan kondisi kita setelah mencapai mimpi tersebut.

Jembatan itulah yang disebut dengan rencana. Rencana yang akan mengubah hidup kita, bukan kebetulan. Tanpa direncanakan kita tidak akan berubah. Dalam kehidupan nyata yang dijumpai, sering orang mengatakan belum siap, atau tidak bisa melakukan atau meraih sesuatu. Ketidaksiapan atau ketidakmampuan tidak akan berubah kecuali kita merencanakan untuk mengubahnya menjadi kesiapan atau kemampuan.

“Change should be a friend. It should happen by plan, not by accident.”
Philip Crosby (”Reflections on Quality”)

Putuskan apa yang kita inginkan, kemudian tulislah sebuah rencana, maka kita akan
menemukan kehidupan yang lebih mudah dibanding dengan sebelumnya, kenapa?
• Rencana adalah pijakan untuk melangkah, bagaimana bisa melangkah jika tidak ada pijakan?
• Rencana memberikan arah kemana harus melangkah .
• Rencana memudahkan kita untuk fokus, dimana fokus akan memberikan hasil yang optimal.
• Rencana akan membantu untuk mengoptimalkan waktu.
• Rencana akan menunjukan apakah tujuan kita bisa dicapai atau tidak
• Rencana akan mengontrol kita, sehingga kita tetap di jalur yang mengarah menuju impian kita.
• Rencana membuat kita berfikir lebih sistematis

Kini saatnya bagi kita untuk membuat sebuah rencana jika kita ingin sukses seperti apa
yang dikatakan petenis tenar Andre Agassi,
“Success comes to those who plan their work and then work their plan!”

Allah SWT dalam firman-Nya memerintahkan kepada Nabi SAW beserta para sahabat
untuk membuat rencana ketika akan berangkat atau menghadapi peperangan,
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan
dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu
menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu
tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya
(dirugikan). (QS:Al Anfaal:60)

Dari rencana tadi kita wujudkan dalam bentuk tindakan (action). Ada dua hal yang menyebabkan kita sukses, pertama adalah dengan melakukan cara tertentu untuk meraih sukses, kedua Allah mengijinkan kita untuk sukses.

Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri [12.67]

Meskipun ada faktor nasib disini, tetapi bukan berarti kita tidak harus berusaha, hanya
menunggu nasib dari Allah. Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk berusaha. Seperti
didalam firman-Nya:

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. [25.47]

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (ar-Ra’d: 11)

Kita disuruh berusaha, tetapi usaha tertentu yang bisa membuat kita sukses (bukan sembarang usaha), karena yang menjadikan orang sukses ialah karena mereka melakukan usaha tertentu yang benar yang akan membuat kita sukses. Bagaimanapun kerasnya kita berusaha jika usaha yang kita lakukan salah maka tentu saja tidak akan berhasil.

Sukses tidak disebabkan oleh lingkungan. Bagaimanapun lingkungan kita, kita tetap bisa sukses. Ada orang yang sukses dari lingkungan kota, ada juga dari desa. Jika Anda seorang karyawan, ada juga karyawan yang sukses, jika Anda seorang pengusaha ada pengusaha yang sukses, bahkan jika Anda seorang pemulung, ada juga yang sukses. Meskipun Anda seorang presiden tidak dijamin Anda akan sukses. Sudah ada contoh bahwa seorang presiden mengakhiri hidupnya dengan tragis. Kesimpulannya lingkungan atau profesi tidak menentukan Anda sukses atau tidaknya.

Begitu juga dengan kepandaian maupun gelar tidak menjamin akan sukses. Banyak yang bergelar doktor maupun profesor tidak mendapatkan kesuksesan, tetapi disisi lain lulusan SD ada yang sukses.

Sukses juga tidak ditentukan oleh modal, sudah banyak contoh orang sukses tanpa modal (sukses dalam bisnis). Jadi tidak ada alasan kita tidak mau mengejar sukses karena terhambat modal. Mendapatkan modal adalah bagian dari langkah menuju sukses, bukan penentu. Karena banyak juga yang sudah punya modal tidak sukses.

Pada intinya kita semua bisa sukses tidak peduli dimana Anda berada, tidak peduli apa pendidikan Anda bahkan tidak peduli Anda punya uang atau tidak sekarang. Yang penting Anda mau melakukan cara yang benar untuk meraih sukses.

Timbul pertanyaan, seperti apa cara atau strategi jitu untuk meraih sukses. Anthony Robin
dalam bukunya Langkah Sukses menuliskan langkah jitu untuk meraih sukses yaitu :
1. Tentukan tujuan yang diinginkan. (berhati-hatilah! Kejelasan merupakan modal paling penting.)
2. Ambillah tindakan (karena kemauan saja tidak cukup)
3. Periksalah apa yang berhasil dan tidak. (Kitq tidak perlu menyia-nyiakan energi untuk pendekatan tidak bermanfaat)
4. Ubah pendekatan kitq sampai menggapai tujuan (Fleksibilitas memberi kita kemampuan untuk membuat pendekatan baru dan hasil baru)

Yah, kita bisa sukses jika menjalankan 4 langkah di atas, Insya Allah. Tetapi ada yang perlu diperhatikan yaitu 4 langkah tersebut diatas adalah langkah-langkah sukses yang umum. Kita memerlukan cara-cara yang lebih spesifik atau penjabaran dari langkah-langkah tersebut yang lebih fokus terhadap sukses yang sedang dikejar. Contohnya ialah jika kita ingin sukses dalam bisnis, tentu saja kita harus tahu langkah-langkah menjalankan bisnis, jika kita ingin sukses dalam bidang olah raga maka kita harus tahu tentang olah raga yang kita tekuni.

Tetapi jangan takut, jika melakukan 4 langkah diatas, keterampilan yang diperlukan bisa mengikuti. Keterampilan bisa dipelajari. Maka kunci sukses selanjutnya sebagai pelengkap dari empat langkah tersebut adalah kemauan untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Banyak kisah dimana pada usia lanjut masih bisa mendapatkan pengetahuan serta keterampilan baru.

Satu lagi hal penting dalam meraih sukses ialah adanya energi pendorong yang kuat dalam melakukan keempat langkah tersebut. Motivasi. Yah motivasi, tanpa itu tidak akan bisa bergerak. Motivasi ibarat darah dalam tubuh, motivasi ibarat bensin dalam mobil yang menjadikannya bergerak. Semakin besar atau semakin kuat motivasi kita akan semakin besar kemungkinan untuk berhasil.

Seorang mujahid tidak gentar dengan berbagai senjata lawan yang dia hadapi. Bahkan tidak jarang kekuatan lawan yang jauh tidak seimbang. Tetapi pada kenyataan seorang mujahid pantang mundur terus bergerak. Kenapa? Tentu karena mempunyai motivasi yang sangat kuat untuk meraih ridha illahi sehingga mampu mendorong dia untuk menembus segala rintangan dan halangan bahkan dengan nyawa taruhannya.

Jika kita ingin sukses maka kita harus mempunyai motivasi yang besar untuk meraih sukses tersebut. Dan motivasi terbesar, tidak terbatas serta mulia ialah motivasi menggapai ridha illahi. Berperang di medan tempur, mengentaskan kemiskinan, mencerdaskan umat, memberantas kelaparan, memberantas oknum-oknum yang kotor, dan sebagainya akan terasa berat tanpa motivasi menggapai ridha illahi.

Melakukan empat langkah di atas ditambah motivasi yang kuat akan membawa kita kepada kesuksesan, kecuali Allah menghendaki lain. Teruslah berusaha karena Allah memang menyuruh kita berusaha, tentang hasil kita serahkan saja kepada Allah. Jika motivasi kita mulia, berhasil tidak berhasil kita akan mendapatkan balasan dari Allah jika kita telah berusaha seoptimal kita




READ MORE - Jembatan Menuju Impian & Kesuksesan

14 Juli 2007

Makna sabar dan shalat

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang
demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu)
orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan
bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46)

Kita sering kali mencari pertolongan ke sana ke mari saat kita ditimpa masalah,
namun kita (mungkin hanya saya), malah sering lupa untuk meminta pertolongan
kepada Allah SWT melalui shalat dan shabar. Shalat adalah bukti ketundukan
kita kepada Allah SWT, shalat adalah do’a, shalat adalah ibadah yang bukan
hanya memuji Allah SWT tetapi juga berisi permintaan-permintaan kita kepada
Allh SWT.

Alangkah indahnya dalam sujud dan ruku’ kita mensucikan dan memuji Allah
sebagai simbol ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Allah Maha
Pengasih dan Maha Penyayang, jangankan kepada makhluq-Nya yang tunduk
dan taat, bahkan kepada orang-orang yang membangkang pun dengan segala
kesombongannya, Allah masih tetapi memberikan nikmat tiada tara.
Mungkin kita perlu membenahi shalat kita, agar sesuai dengan syariat dan
menjalankannya dengan penuh kekhusyuan. Kita seharusnya malu jika masih
setengah-setengah menjalankan shalat, mengabaikannya, tidak peduli apakah
shalat kita sudah benar atau tidak, dan shalat hanya penggugur kewajiban.
Sudahkah shalat kita sesuai syariat?

Sudahkah kita yakin bahwa shalat kita sudah sesuai dengan syariat? Marilah kita
bertanya, apakah takbiratul ihram kita sudah benar? Jika ya, tahukah Anda ayat
atau hadits yang membuktikan bahwa takbiratur ihram kita itu sudah benar? Jika
kita masih ragu atau masih belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini,
berarti kita masih perlu belajar, masih perlu membuka buku-buku fiqh dari ulama
terpercaya.

Inspirasi buat saya, meski sudah seperempat abad saya shalat, saya harus tetap
mempelajari bagaimana cara shalat yang benar. Saya harus membaca buku dan
bertanya, bagaimana shalat yang benar, dengan mengetahui dalil-dalil yang
membuktikan kebenaran tersebut.
Sudahkah shalat kita khusyu’?

Bukan sembarang shalat yang akan menjadi penolong kita. Dalam ayat tersebut,
disebutkan bahwa orang yang bisa menjadikan shabar dan shalat sebagai
penolong ialah mereka yang khusyu’. Tidak ada ukuran baku dalam shalat
khusyu’, oleh karena itu kembali kita meminta kepada Allah SWT agar
menjadikan shalat kita dengan khusyu’.

Shalat yang khusyu adalah shalat yang dikerjakan dalam nuansa harap, cemas,
dan cinta, serta dengan takbir yang sempurna, lantunan ayat yang tartil, ruku’
dengan tawadhu, sujud dengan diliputi kerendahan hati dan keikhlasan. Tentu
tidak lupa harus sesuai dengan syariat. Sebagai tip agar shalat kita lebih khusyu’
ialah dengan menganggap bahwa shalat yang kita lakukan adalah shalat yang
terakhir, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw,

Jika kamu berdiri untuk melaksanakan shalat, maka shalatlah sperti shalatnya
orang-orang yang akan berpisah (meninggal). (HR Ibnu Majah)
Subhanallah. Allah sudah menyediakan suatu solusi kepada kita, untuk setiap
masalah yang dihadapi. Cara yang lengkap, bukan hanya mengajarkan apa yang
harus dilakukan, tetapi juga bagaimana melakukannya dengan baik yang benar.
Masihkah kita takut dengan masalah? Masihkah kita menghindari masalah?
Masihkan kita frustasi dengan masalah? Padahal Allah SWT sudah memberikan
solusi bagi kita?

Jalani hidup. Hadapi masalah. Jangan menjadi pengecut sehingga kita tidak
berkarya, tidak mencoba berbuat sesuatu yang besar karena takut masalah
menghadap kita. Banyak pemuda yang enggan menikah karena alasan belum
siap, padahal solusi sudah disiapkan oleh Allah SWT. Banyak orang yang tidak
mau memikul beban dakwah, padahal solusi sudah disiapkan oleh Allah SWT.
Saat Rasulullah saw dan para sahabat hijrah, mereka meninggalkan kampung
halaman, meninggal harta benda, dan meninggalkan keluarga. Mereka
mengambil resiko untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Mereka tahu, masalah
bisa saja muncul baik saat hijrah dan setelahnya. Tetapi mereka tetap
menjalaninya, karena mereka yakin masalah yang akan ditemui, Allah SWT
sudah menyiapkan solusinya.

Rasulullah saw selalu menjadikan shalat sebagai solusi berbagai masalah
seperti yang kita baca dalam berbagai riwayat. Hudzaifa bin Al Yaman
menceritakan, “Jika Rasulullah saw ditimpa sebuah kesulitan beliau bersegera
melaksanakan shalat.” Begitu juga yang diriwayatkan oleh Haritsah bin Madhrib,
“Aku mendengar Ali ra. berkata, ‘Kamu melihat kami dan segala keadaan kami
pada malam perang Badar kecuali Rasulullah saw, beliau mengerjakan shalat
dan berdo’a hingga datang waktu subuh.’”

Sering kali saya mendengar jika seseorang sakit dia seolah-olah ada alasan
untuk tidak shalat. Padahal justru shalat bisa mengobati penyakit, seperti apa
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah saat dirinya sedang sakit perut. Rasulullah
saw. bertanya, “Apa kamu sakit perut?” Ia menjawab. “Benar.” Beliau bersabda,
“Berdirilah dam kerjakan shalat. Sesungguhnya dalam shalat itu terdapat
kesembuhan.”

Allahuakbar. Marilah kita hadapi hidup dengan tegar. Biarkan masalah datang,
tidak usah kita hindari apa lagi lari dari masalah. Saat kita lari dari masalah,
sebenarnya hanya menuju ke masalah yang lain yang mungkin saja lebih besar
dari masalah yang kita hadapi saat ini. Kita sudah memiliki solusi dari setiap
masalah yang muncul yang sudah disiapkan oleh Allah SWT untuk kita. Marilah
jalani hidup dengan lebih semangat dan optimis. Tidak ada alasan untuk tidak.
Saat kesulitan menghimpit, bersabarlah….

Saat kita menghadapi masalah. Saat kita memerlukan pertolongan, yang kita
bisa lakukan selain shalat adalah bershabar. Memang ada yang lain? Usaha!
Yah usaha, yang sebenarnya usaha adalah bagian dari shabar. Hanya saja
usaha dalam rangka shabar lebih bermakna ketimbang hanya usaha saja yang
bisa saja membuat kita frustasi.

Memang, makna kesabaran bukanlah kita diam, pasrah, dan menyerah. Shabar
bersanding dengan usaha bahkan dalam berbagai ayat kita temukan shabar
sering disandingkan dengan kata jihad. Inilah maknanya buat kita,

Usaha/jihad + shabar = pertolongan Allah SWT

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu
dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada
Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali 'Imraan: 200)

Jadi janganlah cepat menyerah. Majulah terus, usahalah terus, sebab jika kita
shabar insya Allah, Allah SWT akan menolong kita karena ini yang
diperintahkan-Nya kepada kita. Kenapa harus takut jika ada jaminan dari Allah?
Kenapa harus ragu jika Allah SWT akan menolong kita? Ini bukan kata saya, ini
ayat Al Quran, yang ditujukan untuk kita semua.

Dengan bershabar, kita akan menjadi lebih semangat dalam menjalani hidup.
Bagaimana tidak, pertolongan Allah SWT sudah di depan mata. Tinggal sejauh
mana kita bisa meraih pertolongan tersebut dengan kesabaran kita.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com


READ MORE - Makna sabar dan shalat

13 Juli 2007

Berfikir dan Bekerja secara produktif


Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.
(QS. Al-Anfal: 22)


BERPIKIR dan bekerja merupakan kata yang patut kita sandingkan dalam membangun produktifitas kehidupan seorang muslim. Kerjasama kedua makna kata ini, bila kita laksanakan dengan benar akan melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa. Bagi manusia yang mampu memaksimalkan kedua potensi ini, tentu predikat manusia produktif akan segera disandangnya.

Dalam al-Quran, banyak ayat yang memberi kita tuntunan agar bekerja secara produktif. Salah satunya, Allah menyatakan dalam QS. Yasin: 33-35, Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur. Dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?

Makna dari ayat tersebut mengajarkan dan menuntut setiap manusia agar bersyukur kepada Allah SWT. dengan cara beriman atas nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Nikmat itu, antara lain berupa Allah telah memberi kesempatan kepada manusia untuk bekerja secara produktif dan sukses dalam hidupnya. Posisi kesempatan yang diberikan Allah ini bergantung pada pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Selain itu, kita harus menyandarkan diri terhadap segala yang telah diushakan tersebut kepada kehendak-Nya.

Dalam hal ini, untuk menciptakan kehidupan yang positif dan produktif, Muhammad al-Bahi mengungkapkan ada tiga unsur penting yang harus diperhatikan. Pertama, mendayagunakan potensi yang telah dianugerahkan Allah untuk bekerja, melaksanakan gagasan, dan memproduksi. Kedua, bertawakal kepada Allah, berlindung, dan meminta pertolongan kepada-Nya pada waktu melakukan pekerjaan. Ketiga, percaya kepada Allah bahwa Ia mampu menolak bahaya, kesombongan, dan kediktatoran yang memasuki lapangan pekerjaan.

Nikmat lain yang patut disyukuri manusia ialah berupa kehendak Allah menyediakan lingkungan agar manusia dapat hidup di dalamnya. Pada ayat: Dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka tersebut, telah mengajarkan bahwa menjadikan pekerjaan tangan sebagai pilar utama produksi (pertanian), bukan berarti seorang mukmin dibenarkan berlindung pada sikap fatalistik. Yakni sikap menunggu dan mengharapkan datangnya rezeki tanpa bekerja.

Memang Islam mengajak manusia untuk bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak mengakui sikap fatalistik itu. Apalagi untuk mendorongnya. Bertawakal kepada Allah, berarti mendayagunakan seluruh potensi untuk memikirkan cara-cara yang benar dan tepat dalam melakukan pekerjaan. Proses kerja ini dimulai dengan bertawakal dan bersandar kepada-Nya yang dipadukan dengan tujuan, perencanaan, program, dan pelaksanaan kerja.
* *
DALAM bekerja, kita dianjurkan untuk mengembangkan “sayap kerjasama” dengan setiap makhluk Allah, termasuk dengan alam sekalipun. Kerjasama dan solidaritas adalah naluri dasar yang selalu dimiliki makhluk Allah. Oleh karena itu, tidak ada makhluk satu pun yang dapat hidup menyendiri, sekalipun dalam koloninya sendiri.

Dalam kehidupan alam semesta, kita diajarkan agar melakukan kerjasama yang solid. Kehidupan semut, misalnya, selalu kerjasama dengan baik dalam menjalani hidup dan menghadapi bahaya. Bahkan setiap semut merupakan bagian dari suatu proses pemecahan masalah di antara mereka sendiri.

Waktu mencari makan, semut secara bersama-sama menyapu setiap makanan yang mereka temukan. Semua bisa berjalan dengan kecepatan sampai 20 km/jam dan dapat membunuh mangsanya sampai 20 ribu kali setiap hari. Ketika mereka kembali ke sarang, setiap semut pasti mengusung makanan untuk temannya (baca: semut perawat), yang bertugas khusus merawat jentik-jentik telur semut di sarangnya.

Semut merah, bahkan tak hanya bekerjasama dengan koloninya. Mereka selalu kerjasama dengan ulat bulu. Menurut Profesor Edward Wilson, semut-semut merah itu memanfaatkan liur ulat untuk lem bagi sarangnya. Selain itu, si ulat bulu juga mengeluarkan suara seperti musik yang sangat disukai para semut merah. Sebagai balasannya, semut merah akan memberi makan dengan jentik-jentik telurnya setiap hari, hingga ulat keluar dan tumbuh menjadi kepompong. Sungguh hal ini merupakan bukti kalau alam itu mengajarkan kepada kita tentang sebuah kerjasama yang sangat solid.

Jadi, masihkah kita akan menebar rasa permusuhan, saling curiga, dan perpecahan sesama anak bangsa dalam membangun sebuah tatanan produktifitas bangsa yang sedang tepuruk saat ini?
* *
MELALUI akal, manusia dapat berpikir. Dengan pikirnya itulah, seharusnya manusia mampu menciptakan semangat kerja. Sehingga tak berlebihan bila Muhammad Utsman Najati mengungkapkan, pekerjaan manusia meliputi aspek rasio dan fisik. Jika manusia tidak bekerja maka berarti ia hidup tanpa memenuhi tugasnya.

Keberadaan rasio itu sendiri, sudah seharusnya dimaksimalkan untuk berpikir. Melalui pemikiran itu, manusia akan membuat garis lurus dalam kehidupan yang berfungsi sebagai benteng terhadap godaan hawa nafsu. Abdul Hamid Mursi menyebutkan, hawa nafsu tidak dapat mengalahkan pikiran kecuali jika manusianya banyak bersantai. Bekerja merupakan tugas dalam hidup manusia, karenanya manusia tidak boleh melakukannya dengan terpaksa. Lagian, bukankah manusia akan merasakan kenikmatan bila mengerjakannya dengan penuh kesadaran?

Akhirnya, masihkah kita akan mengabaikan potensi pikir, kerja, dan produktifitas dalam hidup, yang telah Allah anugerahkan kepada setiap diri manusia ini? Yang pasti, Allah akan menjujung tinggi manusia yang berpikir dan merendahkan orang yang tidak menggunakan pikirnya pada tingkatan di bawah hewan. Allah berfirman, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun. (QS. Al-Anfal: 22). Wallahualam.***
READ MORE - Berfikir dan Bekerja secara produktif

Sukses Merupakan Pilihan


SUKSES MERUPAKAN PILIHAN

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (Q.S. An Najm : 39).

Apakah yang dimaksud dengan sukses? Setiap orang memiliki paradigma yang berbeda mengenai kesuksesan. Memang tidak ada standar yang baku dalam kesuksesan, namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai sebuah keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Allah menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Sebagai manusia, kita berbeda dengan tumbuhan, hewan, jin, atau malaikat, kita diberi kebebasan memilih, sukses atau gagal.

Tentunya pilihan kita adalah sukses. Kita tidak diciptakan untuk gagal. Jika kita gagal, itu pasti bukan kehendak Allah, melainkan kita tidak serius memompa potensi yang dikaruniakan-Nya, yaitu diberikan akal untuk memilih kebaikan atau keburukan.

Sesungguhnya kesuksesan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat hanyalah terletak dalam ‘amal agama. Sebanyak mana seseorang meng’amalkan agama dalam melakukan pencapaian-pencapaian targetnya, maka sebesar itulah kesuksesannya. Sejatinya sukses yaitu mana kala seseorang meninggal dalam keadaan baik, mampu mengucapkan kalimat tertinggi “Laa Ilaha Illalah”. Kesuksesan yang hakiki adalah pada saat seseorang dapat berjumpa dengan Allah swt. di Surga.

Sukses merupakan pilihan, dalam Al Qur’an disebutkan ada sebagian orang yang menginginkan kesuksesan hanya di dunia saja, sehingga tidak mendapatkan kesuksesan di akhirat. Sebagian lain menginginkan kesuksesan tidak hanya di dunia namun juga kesuksesan di akhirat serta menginginkan keselamatan dari siksa neraka. (Q.S. Al Baqarah : 200 – 201)

Pada dasarnya sukses adalah milik semua orang. Tetapi persoalan yang sering terjadi adalah, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu.
Siapakah yang dapat membuat kita menjadi sukses? Tidak ada yang dapat menjadikan kita sukses melainkan diri kita sendiri dengan ketentuan dari Allah swt.
Allah swt. berfirman,”Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri”. (Q.S. Al Anfal : 53). Dalam ayat lain Allah swt. berfirman, ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (Q.S. Ar Ra’d: 11)

Anda adalah diri Anda, sekarang dan dimana pun, karena Anda sendiri. Siapa pun Anda saat ini, atau siapa pun Anda di masa yang akan datang, tergantung kepada diri Anda sendiri. Hidup Anda saat ini merupakan hasil akumulasi dari pilihan, keputusan dan tindakan Anda untuk sampai pada titik ini.

Anda dapat menciptakan masa depan Anda sendiri dengan mengubah perilaku Anda. Anda dapat membuat pillihan baru yang lebih konsisten dengan sosok yang Anda inginkan dan segala sesuatu yang ingin Anda selesaikan dalam hidup Anda.

Sumber : http://www.motivasi-islami.com


READ MORE - Sukses Merupakan Pilihan

19 Juni 2007

Kesabaran

KESABARAN KUNCI MERAIH KESUKSESAN

Tidak ada jalan yang terlalu panjang bagi orang yang melangkah tanpa tergesa-gesa dan tidak ada penghargaan yang tidak dapat diraih bagi orang yang mempersiapkan diri untuk mendapatkannya dengan kesabaran.” (Bruyere).
DALAM hidup ini begitu banyak tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Bagi mereka yang tidak sabar, maka siap-siap untuk dikecewakan oleh tindakannya itu.

Kesabaran adalah kata yang indah dan mudah diucapkan, tapi ternyata tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Dan derajat kesabaran inilah sesungguhnya yang membedakan hidup orang sukses dengan orang gagal dalam aktivitas hidupnya. Termasuk di dalamnya berlaku juga pada dunia kerja di mana pun. Terkait dengan ini, pantas saja seorang bijak pernah mengatakan, “Orang sukses adalah orang yang terus mencoba, meskipun telah mengalami banyak kegagalan. Ia memandang kehidupan sebagai peluang untuk mencapai kesuksesan.”
Dengan kata lain, di dunia ini tidak ada sesuatu kesuksesan apa pun yang tidak dapat diraih oleh orang-orang yang mampu mempersiapkan dirinya secara baik untuk mendapatkannya dengan penuh kesabaran. Hal ini dapat kita buktikan dari kisah-kisah atau perjalanan hidup orang sukses. Di sini, dapat dipastikan kita akan menemukan nilai-nilai kesabaran di dalamnya.
Langkah selanjutnya, setelah jiwa sabar itu bersemayam dalam diri dan perilaku Anda, maka langkah sukses itu harus didukung pula dengan apa yang sebenarnya mesti mereka ketahui dan lakukan untuk menjadi sukses. Dalam suatu sumber disebutkan, ada tujuh hal yang dilakukan oleh mereka dalam meraih sukses.

Mau mengambil risiko. Orang sukses berupaya untuk mencapai target, melakukan penghematan, membangun relasi dengan banyak orang, dan gesit mencoba sesuatu yang baru guna mengikuti perkembangan zaman. David C. McClelland, seorang guru besar yang mendalami perjalanan orang-orang sukses serta telah melakukan perjalanan ke banyak negara dan melatih pengusaha kecil, menyatakan cara menjadi pengusaha kecil sukses adalah dengan menjadi pengambil risiko moderat; yang mau terus mengambil risiko untuk meraih sukses.
Percaya diri dan merasakan bahwa dirinya berbuat sesuatu untuk dunia. Orang sukses memandang sebuah dunia yang besar dan ingin memainkan peranan penting di dalamnya. Mereka tetap bekerja sesuai keterampilan mereka, sambil tetap menyadari bahwa keterampilan inti memberi nilai kepada keterampilan lainnya. Mereka juga sadar, karya terbaik akan menghasilkan kompensasi bagi mereka.

Menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Orang sukses mampu melihat pekerjaan sebagai kesenangan; mereka memilih bekerja di mana mereka dapat unggul. Orang sukses menyukai tantangan; mereka menikmati pencapaian puncak permainan mereka, apakah di pekerjaan, dll.
Menjadi pelajar seumur hidup. Orang sukses menyadari, pendidikan tak pernah berakhir tapi dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas; artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah, dan menggunakan Internet merupakan bentuk pendidikan pula. Karena itu, tetaplah mengalir sesuai perubahan ketertarikan dan kemampuan Anda, dan nikmati perubahan. Ini akan membantu Anda tumbuh dan merasakan lebih percaya diri.

Berpandangan positif terhadap apa yang dapat dikerjakan. Orang sukses percaya gelas itu setengah penuh dan bukan setengah kosong. Mereka menanamkan semangat pada diri sendiri dan dapat membayangkan diri bagaimana mereka berhasil menyelesaikan suatu tugas sulit atau mencapai penghargaan tertinggi. Orang sukses berbuat bagaikan pelatih bagi orang lain, dengan menyuguhkan pesan-pesan positif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka senang melihat orang lain membuat tonggak sejarah dalam kehidupan mereka.

Memotivasi diri sendiri. Orang sukses mempunyai banyak cara untuk memotivasi diri sendiri sehingga dapat terus berkarya lebih baik dari yang lain. Ada yang dengan cara melakukan beberapa pekerjaan setiap hari pada bidang berbeda. Seorang pria setengah baya memotivasi dirinya sendiri dengan mencoba mendapatkan lebih banyak uang daripada kakaknya. Seorang wanita berusia 29 tahun menjadi perawat top untuk menunjukkan kepada bekas gurunya bahwa dia memiliki keterampilan dan kecerdasan memadai untuk mencapai profesi itu.

Tidak bekerja setengah-setengah. Orang sukses menyelesaikan tugas tidak dengan setengah-setengah. Mereka menggunakan cara kreatif dalam meraih sukses. Meski mungkin membutuhkan waktu lebih lama, mereka akhirnya melampaui garis finis. Mereka manfaatkan waktu dengan baik dalam mensinergikan kemampuan fisik dan mental untuk mencapai sukses.
Akhirnya, sesungguhnya setiap orang berpeluang untuk sukses dalam bidangnya masing-masing, termasuk kita yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan atau sukses dalam usaha. Anda ingin sukses? Maka, tanamkanlah dalam diri Anda nilai-nilai kesabaran dan lakukan kiat-kiat tersebut sebagai realisasi kesabaran Anda




READ MORE - Kesabaran

12 April 2007

Bekerja Ibadah, Berprestasi Indah


وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Qs Al-taubah : 105).


A. Pendahuluan

Hampir disetiap sudut kehidupan kita akan menyaksikan begitu banyak orang yang bekerja. Para selesman yang hilir mudik mendatangi toko dan rumah-rumah, para guru yang tekun berdiri di depan kelas, polisi yang mengatur lalu-lintas dalam selingan hujan dan panas terik, serta segudang profesi lainnya. Semuanya melakukan kegiatan (aktivitas), tetapi lihatlah bahwa dalam setiap aktivitasnya itu ada sesuatu yang dikejar, ada tujuan serta usaha (ikhtiar) yang sangat sungguh-sungguh untuk mewujudkan aktivitasnya tersebut mempunyai arti. Walaupun demikian tidaklah semua aktivitas manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk pekerjaan karena didalam makna pekerjaan terkandung tiga aspek yang harus dipenuhinya secara nalar yaitu sebagai berikut :

Pertama, aktivitasnya dilakukan karena ada dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk menghasilkan karya atau produk yang berkualitas. Bekerja bukan sekedar mencari uang, tetapi ingin mengaktualisasikannya secara optimal dan memiliki nilai transendantal yang sangat luhur. Baginya bekerja itu adalah ibadah, sebuah upaya untuk menunjukan perfomance hidupnya dihadapan illahi;bekerja seoptimal mungkin semata-mata karena merasa ada panggilan untuk memperoleh ridha Allah. Karena itu sangat mustahil seorang muslim yang mengaku dirinya sebagai wakil Allah mengabaikan makna keterpanggilannya untuk bekerja dengan sempurna.

Kedua, apa yang dia lakukan tersebut dilakukan karena kesengajaan, sesuatu yang direncanakan. Karenanya, terkandung didalamnya suatu gairah, semangat untuk mengerahkan seluruh potensi yang dimilikinya sehingga apa yang dikerjakannya benar-benar memberikan kepuasan dan manfaat. Apa yang dilakukannya memiliki alasan-alasan untuk mencapai arah dan tujuan yang luhur yang secara dinamis memberikan makna bagi diri dan lingkungannya sebagaimana misi dirinya yang harus menjadi rahmat bagi alam semesta.

Ketiga, apa yang dia lakukan hanya semata-mata mencari ridha Allah dan menjadikan dirinya penuh arti dimana setiap langkah dan kerjanya dilaksanakan secara continue dan tak pernah mengenal kata menyerah.

B. Makna Bekerja

Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan didalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT. Bekerja dikatakan sebagai aktivitas dinamis mempunyai makna bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan seorang muslim harus penuh dengan tantangan (challenging), tidak monoton, dan selalu berupaya untuk mencari terobosan-terobosan baru (innovative) dan tidak pernah merasa puas dalam berbuat kebaikan. Ada semacam gedoran dihatinya untuk selalu meningkatkan kualitas dirinya. Jiwanya gelisah bila berada dalam posisi yang mandek (statis). Jiwanya merintih apabila setiap waktu tidak ada perubahan yang bermanfaat. Inilah yang dimaksudkan sebagai semangat perubahan tersebut (spirit of change). Ibarat meneguk air laut kian diteguk terasa kian haus pula rasanya. Islam adalah Dien yang bergerak dinamis penuh energi tidak pernah mengenal kamus berhenti dalam berbuat kebaikan, menggapai prestasi illahiah karena tempat perhentian seperti itu hanyalah kelak di perkuburan sepi, dimana diri kita terasa kaku dan beku terbujur sendirian.

Disisi lain, makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan zikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khairul ummah) atau dengan kata lain dapat juga kita katakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya. Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh seorang tukang kayu dia menabang pohon, menggergaji, menghampelas, kemudian membentuk potongan menjadi sesuatu yang menakjubkan dalam bentuk ukiran, meja, lemari, atau kerajinan lainnya. Pada saat dia memandang pohon itu tergambarlah tujuan tertentu dalam hatinya (apakah ingin membuat meja atau kursi) dan kemudian dengan dorongan (motivasi jihad), gambaran tersebut dia aktualisasikan dalam bentuk kerja.

Secara lebih hakiki, bekerja bagi seorang mu’min merupakan ibadah bukti pengabdian dan rasa syukurnya untuk mengolah dan memenuhi panggilan illahi agar mampu menjadi yang terbaik karena mereka sadar bahwa bumi diciptakan sebagai ujian bagi mereka yang memiliki etos yang terbaik. Sesuai firman Allah berikut :

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الأرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلا
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.(Qs Al-kahfi : 7)

Ayat ini telah mengetuk hati setiap pribadi muslim untuk mengaktualisaikan etos kerja dalam bentuk mengerjakan segala sesuatu dengan kualitas yang tinggi. Mereka sadar bahwa Allah menguji dirinya unyuk menjadi manusia yang memiliki amal atau perbuatan yang terbaik, bahkan merekapun sadar bahwa persyaratan untuk bisa berjumpa dengan Allah hanyalah dengan berbuat amal-amal yang prestatif, sebagaimana firmannya :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Tampaklah dengan semagat transparant bahwa bekerja memberikan makna “keberadaan dirinya dihadapan Illahi” dia bekerja secara optimal dan bebas dari segala belenggu atau tirani dengan cara tidak mau terikat atau bertuhankan sesuatu apapun kecuali Allah. Dalam pengertian ini seorang muslim menjadi seorang yang kreatif. Mereka mau melakukan eksplorasi, sepertinya ada semacam “kegilaan” untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang terbaik (the best of human). Hal ini karena dia sadar bahwa bumi dihamparkan bukan sekedar tempat dia menumpang hidup melainkan justru untuk diolahnya sedemikian rupa untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.


C. Kesimpulan

Kepribadian muslim adalah keperibadian yang gagah berani dan kuat, bahkan setiap saat dia sisipkan doanya untuk memohon kekuatan yang mampu menolong dirinya. Kekuatan hanya akan berjodoh dengan keberanian, sedangkan kelemahan hanya akan bersanding dengan mereka yang berjiwa lemah dan pemalas. Dengan kata lain yang dimaksudkan dengan bekerja adalah upaya untuk mengisi kualitas hidup islami, yaitu lingkungan kehidupan yang dilahirkan dari semangat tauhid, yang dijabarkan dalam bentuk amal prestatif (amal shaleh) yang berbalut keberanian, ketangguhan, ketabahan, dan kesungguhan. Mengingat amal shaleh tersebut harus aktual, jelas, dan tampak didalam semangat diri pribadi muslim tersebut terkandung motivasi, arah, rasa, dan rasio yang seluruhntya itu dimanifestasikan dalam bentuk tindakan (action) dari semua itu kita dapat meringkasnya dalam rumus sebagai berikut :

KHI = T,AS (M.A.R.A)

KHI = Kualitas hidup islami
T = Tauhid
AS = Amal Shaleh
M = Motivasi
A = Arah Tujuan (Hope, Goal, Objectives)
R = Rasa dan rasio (pikir dan zikir, head and heart)
A = Action (Hand and Hard working)

Dari rumusan ini, tampak bahwa etos kerja mu’min itu dapat didefinisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai manifestasi dari amal shaleh dan oleh karenanya mempunyai nilai ibadah yang sangat luhur.

Selain itu makna bekerja bagi seorang mu’min adalah melahirkan sikap mental yang dinamis, bergerak untuk menghasilkan prestasi (karya) dimuka bumi ini. Dengan etos kerjanya itu mereka selalu siap untuk melontarkan sebuah jawaban, “inilah pekerjaan dan prestasiku” semoga apa yang kuperbuat memberikan nilai sebagai rahmatan lil’alamiin dan semoga Allah mencatat sebagai amal shaleh. Karena dengan mengharap amal shaleh diri kita akan lebih optimis dalam menjalani hidup ini. Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.

Penghargaan Islam atas hasil karya dan upaya manusia untuk bekerja ditempatkan pada dimensi yang setara setelah iman, bahkan bekerja dapat menjadikan jaminan diampuninya dosa-dosa manusia, sebagai mana sabda rasulullah :

“Barang siapa yang diwaktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja berkarya dengan tangannya sendiri maka diwaktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya. “
(Hr Thabrani dan Baihaqi)

Dan dari semuanya itu bisa kita simpulkan bahwa :

1. Bekerja itu adalah ibadah dan amanah yang akan melahirkan amal shaleh, dan Allah sangat mencintai orang-orang yang bekerja.
2. Menumbuhkan gerak kreativitas untuk mengembangkan dan memperkaya serta memperluas bidang pekerjaannya. Dengan cara ini maka mereka akan merasakan bahwa dengan mengembangkan pekerjaannya akan tumbuh berbagai kegiatan dan tantangan lain, yang berarti menunjukan bertambahnya amanah Allah pada dirinya.
3. Ada semacam rasa malu hati yang mendalam (budaya malu) bila pekerjaannya tidak dilaksanakan dengan baik karena hal ini berarti sebuah pengkhianatan terhadap amanah Allah
4. Bekerja menurut konsep Islam adalah segala yang dilakukan oleh manusia yang meliputi kerja untuk dunia dan kerja untuk akhirat.
5. Kerja adalah asas penilaian manusia dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya sebagai khalifah Allah dan hamba-Nya untuk memakmurkan bumi ini dan sekaligus pula beribadat kepada Allah, Tuhan Pencipta alam.

Dengan berfikir seperti ini setiap pribadi muslim adalah tipikal manusia yang terus meronta, gelisah, dan berfikir keras untuk secara dinamis mencari terobosan, inovasi, serta aktivitas yang penuh arti dalam bentuk dinamika kreativitas yang terus mengalir tak pernah mengenal lelah. Tentunya dalam rangka menjalankan tugas suci mentegakan li’ilaikalimatillah.



READ MORE - Bekerja Ibadah, Berprestasi Indah

13 Maret 2007

The Best Of Human

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Qs Al-Imran : 110)

A. PENDAHULUAN

Pada dasarnya setiap manusia bisa menjadi yang terbaik bagi dirinya apapun latar belakangnya, status sosial maupun ekonomi . Namun mengapa masih banyak manusia bahkan lebih dari lima puluh persen dari jumlah manusia di dunia yang tidak merasa demikian. Lalu dimana letak kesalahannya? Apakah semua itu sudah suratan takdir alias Nasib? Seandainya benar, apakah kita yakin kalau Allah menginginkan manusia yang notabene ciptaanNya yang paling sempurna ini menjadi sengsara dan merana. Tentu saja tidak. Hal ini bisa dibuktikan dengan kelebihan-kelebihan yang dianugerahi oleh Sang Pencipta kepada makhluk ciptaanNya yang disebut Manusia.

Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna diantara mahluk-mahluk ciptaan lainnya. Selain dikarunia dengan bentuk tubuh yang fungsional, susunan tulang dan otot yang dapat memungkinkan untuk melakukan gerakan yang berbeda-beda, manusia masih dikarunia sebuah otak yang super canggih yang dapat mengontrol denyut jantung kita sampai dengan 100.000 kali/hari dan mampu mengatur kinerja memompa 25 000 liter darah melalui pembuluh darah yang panjangnya kalau dihubungkan dari ujung ke ujung panjangnya mencapai 100,000 km dan ini sama dengan panjang 2 kali bumi apabila ditarik garis lurus mengitari garis khatulistiwa. Itupun hanya sebagian kecil dari kemampuan otak kita dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya uraikan. Sungguh luar biasa apa yang mampu dilakukan oleh otak kita yang beratnya hanya 1.5 kg. Semua itu pula diatur dengan sendirinya oleh otak tanpa harus dipantau oleh si pemilik otak. Sungguh menakjubkan!

Selain itu kelebihan manusia dibandingkan makhluk Allah lainnya adalah diberikannya akal dan pikiran. Dimana dengan kedua hal tersebut manusia mampu menciptakan sesuatu yang hari ini belum pernah terpikirkan contohnya Kemampuan manusia yang mampu menciptakan peralatan teknologi yang begitu bermanfaat semisal handphone, komputer, PDA, dan yang lainnya. Atau bahkan karya manusia yang paling melegenda adalah 7 keajaiban dunia yang hari ini terus diabadikan.maka untuk itu anugrah akal dan pikiran yang telah diberikan Allah kepada kita harus kita syukuri dengan cara mempergunakan dan mengembangkan kemampuan (potensi) keduanya secara maksimal dan seimbang khususnya dalam rangka memperjuangkan tugas suci mentegakan li’ilahi kalimatillah dimuka bumi ini.

B.KERANGKA PEMIKIRAN

Al-qur’an diturunkan untuk manusia,dan manusia di ciptakan untuk berqur’an dimana sumber dari segala ilmu adalah al-qur’an yang di dalamnya terdapat berbagai aspek keilmuan seperti iptek, art, syariat, dan yang lainnya. Yang tentunya semua itu harus digali dan dikembangkan sehingga nantinya manusia mampu membuat karya terbaik yaitu karya yang mampu menjadikan rahmat bagi semesta alam.

Disisi lain seorang mu’min untuk bisa menjadi yang terbaik adalah mempunyai konsep diri yang mencakup cita dan harga diri serta kebermaknaan hidup. Citra ini harus terpantul pada lingkungan kehidupan sehingga setiap pribadi muslim menjadi bunga-bunga yang semerbak yang memberikan kedamaian dengan akhlak, ilmu, dan karya nyata (amal-amal yang prestatif) Dimana kesemuanya itu tiada lain untuk menjadikan hidup lebih bermakna dan bisa bermakna manakala punya tujuan yang tiada lain adalah menggapai mardhatillah (ridha Allah) di muka bumi ini.

C. KARAKTERISTIK

"Karakter adalah kekuatan untuk bertahan dimasa sulit". Tentu saja yang dimaksud adalah karakter yang baik, solid, dan sudah teruji. Karakter yang baik diketahui melalui "Respon" yang benar ketika kita mengalami tekanan, tantangan & kesulitan.
Karakter yang berkualitas adalah sebuah respon yang sudah teruji berkali-kali dan telah berbuahkan kemenangan. Seseorang yang berkali-kali melewati kesulitan dengan kemenangan akan memiliki kualitas yang baik. Tidak ada kualitas yang tidak diuji. Jadi jika ingin berkualitas, tidak ada cara yang lebih ampuh kecuali 'ujian'. Ujian bisa berupa tantangan, tekanan, kesulitan, penderitaan, hal-hal yang tidak kita sukai. Dan jika kita berhasil melewatinya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali maka kita akan memiliki kualitas tersebut. Ada beberapa faktor yang menjadikan manusia terbaik tentunya menjadi terbaik di hadapan Allah Swt diantaranya:

1. Berdien Islam (Beriman, Berhijrah, dan Berjihad)

Tiga unsur diatas merupakan pondasi dasar bagi mu’min untuk menjadi manusia terbaik, karena dengan iman, hijrah, dan jihad kekuatan islam akan terus menyala baik secara syahsiah maupun secara sistem sehingga Islam akan mampu menerangi bumi ini dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Landasan Ayat : Qs 3/19, Qs3/85, Qs 9/20, Qs 6/122, Qs 57/10

2.
Mampu memberi manfaat bagi orang lain

Seperti sabda nabi saw Manusia terbaik adalah Manusia yang membawa manfaat bagi orang lain.

3. Mampu Mensyukuri Ni’mat Allah

Begitu banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia untuk disyukuri diantaranya nikmat akal dan rasa. Dengan 'akal ini manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan ni'mat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan ke'adilan.

Cara mensyukuri keduanya ialah dengan mempergunakan dan mengembangkan kemampuan (potensi) keduanya secara maksimal dan seimbang. Mensyukuri ni'mat 'akal berarti mengasahnya atau melatihnya untuk memecahkan masalah-masalah 'ilmu pengetahuan semahir-mahirnya. Mengasah rasa ialah dengan melatihnya menghadapi tantangan-tantangan hidup, mendidiknya menjadi cinta, bahkan rindu akan kebenaran dan ke'adilan, sehingga ia berani dan siap berkorban untuk Diennya.

Landasan Ayat : Qs 14/7, Qs 16/78, Qs 3/190-191, Qs 49/15


4. Mempunyai power of soul (kekuatan jiwa)

keseimbangan jiwa digambarkan oleh rasa ikhlas, sabar, tenang, tentram, dan damai. Sedangkan jiwa yang tidak seimbang adalah jiwa yang digambarkan oleh rasa marah, benci, malu, tidak percaya bahwa dirinya bisa atau tidak yakin memiliki potensi dan lain-lain. Untuk bisa menerapkan kekuatan jiwa tersebut kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan bersyukur atas ni’mat yang telah diberikannya.

Landasan Ayat : Qs 23/57-61, Qs 4/125, Qs 2/45, Qs, Qs 13/28

5. Mempunyai daya motivasi, inovasi, dan kreativitas yang tinggi dan tidak pernah menyerah pada suatu kondisi.

Keuletan merupakan modal yang sangat besar didalam menghadapi segala tantangan atau tekanan (pressure),sebab sejarah telah bayak membuktikan betapa banyak bangsa yang mempunyai sejarah pahit namun akhirnya dapat keluar dengan berbagai inovasi,dan kreativitas serta mampu memberikan prestasi bagi lingkungannya. Pribadi mu’min yang kreatif selalu ingin mencoba metode atau gagasan baru dan asli sehingga diharapkannya hasil kinerja dapat dilaksanakan secara efisien tetapi efektif. Dan dalam bekerja mereka selalu membiasakan diri untuk berfikir dengan otak kanan atau divergen yaitu mencari alternatif-alternatif, melakukan kegiatan mental yang bersikap perenungan, mencari jawaban dan selalu ingin tahu atas segala sesuatu. Sesuai sabda rasulullah :“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”

Dalam hal ini seorang mu’min harus mempunyai sifat etos kerja mu’min diantaranya mereka orang yang kreatif, mereka memiliki harga diri, konsisten (istiqamah), mereka kecanduan belajar dan haus mencari ilmu, mereka kecanduan kejujuran, selalu memperkaya jaringan silaturahmi, memiliki insting bertanding (fastabiqul khairat), tangguh dan pantang menyerah, mereka tipe orang yang bertanggung jawab, memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki jiwa wiraswasta (Entrepreneurship), hidup berhemat dan efisien, memilki moralitas yang bersih, berorientasi pada masa depan dan produktivitas serta mereka memiliki semangat perubahan (sprit of change) dan pada jiwanya tertanam prinsip bekerja adalah ibadah dan berprestasi itu indah.

Landasan Ayat : Qs 8/45, Qs 13/11, Qs 29/69


D. KESIMPULAN

Manusia terbaik adalah manusia yang dapat mempersembahkan karya terbaik dalam hidupnya untuk kemaslahatan umat manusia. Mempersembahkan karya terbaik untuk kesejahteraan umat manusia dan alam semesta. Itulah "rahmatan lil 'alamin, rahmat bagi seluruh alam". Sesuai firman Allah dalam Qs Al-Anbiya : 107

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Dan dalam setiap karyanya senantiasa dilandasi dengan semangat mardhatillah atau mencari keridhaan allah dimuka bumi ini karena, Ia yakin bahwa seluruh aktivitasnya harus dikonsentrasikan hanya untuk beribadah kepada Nya, Illa liya budun. Semuanya itu dikerjakannya dengan ihklas hanya untuk mendapatkan ridha-Nya untuk mencoba menggapai mardhatillah yang besarnya sebesar langit dan bumi, bahkan lebih besar lagi Allah berfirman :

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(Qs 2 : 207)

Orang yang mendapatkan ridho Alloh SWT berarti dirinya telah menjadi manusia terbaik, baik dihadapan Allah karena dengan menjadi manusia terbaik berarti dia telah mendapatkan kebahagiaan hakiki yaitu kebahagiaan didunia dan akhirat. Dimana, kebahagiaan hakiki ialah sewaktu masuk al jannah, tempat dimana sungai mengalir dibawahnya dan kekal di dalamnya, tempat di mana manusia mendapatkan teman hidup yang suci berasal dari penghuni sorga. Namun kenikmatan jannati yang tak ada taranya ialah sewaktu manusia berkesempatan memandang wajah Allah Aja Wa Jala dan mempraktekannya dalam sebuah sistem yang hak yaitu berdien Islam dan di laksanakan secara konsisten dan sungguh-sungguh.

Disamping itu yang menjadikan manusia terbaik adalah karena keyakinan akan dirinya untuk bisa menjadi yang terbaik karena dia sadar bahwa kepercayaan diri merupakan setengah dari kemenangan dan sebaliknya orang pengecut adalah orang kalah sebelum bertanding. Misi seorang mu’min adalah menjadikan dirinya penuh arti dan sebagai gambaran atau refleksi dari misinya ini akan tampaklah kesungguhan dalam bekerja dan selalu berontak pada kebatilan karena dirinya ingin tampil sebagai bagian dari manusia yang terbaik (khairul ummah)









READ MORE - The Best Of Human

10 Februari 2007

Sahabat itu kekayaan sebenarnya


Sahabat itu Kekayaan Sebenarnya


Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengembalikan kepercayaan diri setelah keterpurukan diri yang membuat garis hitam dalam catatan sejarah hidup saya. Catatan sejarah hitam yang tidak akan pernah bisa terhapus meski banyak air sudah yang keluar dari sudut mata, meski banyak doa yang saya harap bisa meringankan beban yang teramat berat menanggung malu dan dosa masa lalu.

Saat merasa seperti sendiri, saya menjelajahi bumi mencoba menemukan seseorang yang bisa membantu. Saya datangi seorang guru untuk menceritakan semua gundah. Ia yang dengan penuh kesabaran mendengarkan hingga huruf terakhir terucap dari lidah ini. Kemudian ia menulis beberapa kalimat dalam secarik kertas. "Bawa surat ini ke Masjid, temui anak-anak muda disana" hanya itu kalimat penutupnya.

Selepas maghrib, saya pun bergegas menuju tempat yang ditunjuk. Perlahan, malu dan merasa kotor diri ini untuk memasuki masjid, dan seketika saya merasa diri ini tidaklah berharga saat melihat wajah- wajah bersih, sebagian besar wanitanya menutup kepala mereka dengan jilbab, apalah diri ini. "Mari masuk, selamat datang. Kehadiran Anda sangat kami nantikan disini" Sungguh sebaris kalimat yang sangat hangat terdengar.

Sejenak hati ini terpaku merasakan sentuhan persahabatan yang luar biasa dari tatapan, sapaan dan tangan terbuka dari semua yang berada di dalam masjid. Terlebih ketika seorang dari mereka, merangkul pundak saya, "Inilah kami, sebuah keluarga besar yang akan juga menjadi keluarga Anda." Saya seperti baru saja mendapat peluk cium dan kehangatan yang luar biasa, nyaris menandingi kasih yang selama ini saya terima dari ibu. Ada keluarga baru disini, sahabat-sahabat baru dengan senyum dan sapa cintanya.

Hari-hari sesudah itu membantu saya melupakan masa lalu, meringankan beban menanggung dosa masa lalu yang benar-benar tidak pernah bisa hilang dari kenangan. Sahabat-sahabat baru itu seolah tengah membantu saya mengangkat beban yang teramat berat meski hanya dengan senyum, tepukan di punggung atau menyediakan telinga mereka untuk tempat saya membuang sampah mulut ini. Ya, karena kadang yang saya bicarakan kepada mereka bisa jadi tak penting bagi mereka, tapi sungguh telinga mereka tetap tersedia untuk kisah-kisah tak penting saya.

***

Dimana pun saya berada, kemana pun saya pergi, satu yang terpenting untuk saya temukan, yakni sebuah kekayaan bernama sahabat. Tidak seorang pun yang paling beruntung di dunia ini melainkan ia yang memiliki sahabat. Karena sahabat ada, untuk mereka yang terluka, untuk mereka yang tengah memikul berat beban, untuk menghapus air mata yang berduka, membantu seseorang berdiri dari keterpurukan dan menyediakan sayapnya untuk terbang bersama.

Akhirnya, sampailah saya pada satu kepastian hakikat, bahwa sahabat adalah kekayaan sebenarnya. Hilang satu, miskinlah sudah. Bertambah satu, semakin beruntunglah. Terima kasih untuk semua sahabat, Anda adalah kekayaan saya sebenarnya.




READ MORE - Sahabat itu kekayaan sebenarnya

01 Februari 2007

Ilmu Pembersih Hati Dan Sumber Kekuatan


Ilmu Pembersih Hati dan sumber kekuatan

اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Allah Akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs Al-Mujadalah : 11)

A. Pendahuluan

Bekal dalam kehidupan ini adalah tidak berhenti untuk terus menerus mencari ilmu dan pengetahuan. Dunia semakin berwarna warni karena hasil ilmu pengetahuan manusia. Harta yang paling berharga bukanlah uang melainkan ilmu pengetahuan karena dengan ilmu dan pengetahuan segala sesuatu menjadi mudah. Ali bin Abi Thalib memberikan nasihat kepada Kumail bin Jiyad tentang ilmu “Wahai kumail, ilmu adalah lebih utama daripada harta. Ilmu menjagamu, sedangkan kau harus menjaga hartamu. Harta akan berkurang bila kau nafkahkan, sedangkan ilmu bertambah subur bila kau amalkan.

Semangat pencarian ilmu pengetahuan seharusnya melekat kepada mereka yang mengaku sebagai seorang muslim karena hanya dengan ilmu, kebenaran akan lebih mudah dipahami. Begitu besarnya harapan kita untuk mengisi kehidupan dengan ilmu karena salah satu nama Allah yang terbaik (asmau’l husna) adalah al-ilmu.

Menghadapi dunia yang semakin mengglobal dan memberikan dampak yang sangat besar pada peradaban umat manusia, umat ini hanya akan selamat bila di dalam sanubarinya ada semangat pencarian ilmu. Lihatlah dengan mata hati yang paling bening! Betapa mereka yang tidak memperoleh petunjuk ayat-ayat Qur’aniyah mampu menerjamahkan ayat-ayat kauniyah. Mereka menguasai perangkat dan persyaratan Allah, yaitu ilmu. Adalah kerahmananNya, bagi siapa pun yang memenuhi persyaratan objektif yang telah ditebarkan IlIahi, mereka pasti akan memetik hasilnya. Ada sebuah ungkapan, “Allah pasti akan menolong orang yang berilmu, jujur, dan adil walaupun kafir. Akan tetapi, Allah tidak akan menolong orang-orang yang bodoh, pembohong, dan zalim walaupun mereka mengaku Islam!.”

Penguasaan ilmu menyebabkan berkembangnya kemakmuran melalui berbagai inovasi dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Kecanggihan teknologi informasi, kreatifitas dalam penciptaan alat-alat transportasi, dan teknologi informasi, kreativitas dalam penciptaan alat-alat transportasi, dan pengembangan sumber daya manusianya menyebabkan mereka tampil sebagai “khairu ummah” yang selama ini kita sampaikan dalam setiap kesempatan dakwah. Mereka tidak memiliki kata khairu ummah, tetapi mereka mempunyai fakta untuk disebut dirinya sebagai “khairu ummah” yang tentu saja menurut ukuran mereka.

Begitu juga seorang pengusaha, mulai dari salesman sampai eksekutifnya hanya akan berhasil bila mereka menguasai ilmunya. Penegetahuan mereka akan strategi pemasaran, penguasaan teknologi, ilmu manajemen, dan kepemimpinan merupakan kata kunci keberhasilan dunia usaha mereka yang kemudian merambah ke seluruh pelosok dunia. Mereka menamakan dirinya sebagai multinational corporation (pengaruh globalisasi telah mengubah multinational menjadi transnational). Dengan ilmunya, mereka kembangkan berbagai produk. Sebagian dari keuntungan disisihkannya untuk program penelitian dan pengembangan (R & D = research and development) sehingga mereka benar-benar mampu mengendalikan konsumen. Bagi mereka, pengetahuan akan produk yang akan dijual menjadi salah satu hal yang paling fundamental karena mengetahui dan menguasai detail-detail dari produknya menyebabkan dia lebih mudah meyakinkan dan menjadi kekuatan daya jualnya kepada konsumennya (dan sekaligus menaikkan kredibilitas dirinya). Bahkan bisa saya katakan, untuk para salesman itu ada sebuah moto: Knowledge is a power. Product knowledge is selling power!

B. Apakah ilmu itu dan bagaimana ilmu yang bermanfaat itu ?

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, "Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS. Al Kahfi [18] : 109)

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun! Akan tetapi, walaupun hanya "setetes" ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.

Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat - memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, dalam kacamata ma'rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. "Ilmu yang berguna," ungkapnya, "ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati." seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, "Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Sehingga dengan ilmunya itu menjadikan manusia yang dekat kepada Allah dan menjauhkan diri dari kesombongan. Karena kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum'ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita. Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***

C. Bagaimana Cara kita memperoleh ilmu itu ?

Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. "Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?" Sang guru menjawab, "Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.

Artinya ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya. Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta'lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati

Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) Menjadi bermanfaat.Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.

D. Bagaimana Sikap Kita ?

Setiap pribadi muslim dianjurkan untuk mampu membaca lingkungan mulai dari yang mikro (dirinya sendiri) sampai pada yang makro (universe) bahkan memasuki ruang yang lebih hakiki yaitu metafisik, falsafah keilmuan dengan menempatkan dirinya pada posisi sebagai subjek yang mampu berpikir radikal (radix artinya ‘akar’), yaitu mempertanyakan, menyangsikan, dan kemudian mengambil kesimpulan untuk memperkuat argumentasi keimanannya.
Seseorang yang mempunyai wawasan keilmuan tidak pernah cepat menerima sesuatu sebagai taken for granted – karena sifat pribadinya yang kritis dan tak pernah mau menjadi kerbau yang jinak, yang hanya mau manut ke mana hidungnya ditarik.
Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh ikut-ikutan tanpa pengetahuan karena seluruh potensi dirinya suatu saat akan diminta pertanggung jawaban dari Allah SWT (al-Isra : 36).
Begitu tergila-gilanya setiap pribadi muslim, sehingga tidak satu hari pun ia isi harinya tanpa keilmuan. Dan harap diingat bahwa gambaran seorang muslim terhadap ilmu bukanlah sebuah gambaran tentang laboratorium, meja, dan ruang kuliah belaka, sebab bagi dirinya di setiap sudut kehidupan ini selalu saja dia menemukan dasar dan bahan keilmuan yang hakiki.

Seorang mujahid adalah seorang yang haus dahaga untuk mencicipi ilmu karena dia sadar bahwa rasulullah mewajibkan kepada setiap muslimin dan muslimat untuk mencari dan menggali ilmu dari buaian sampai keliang lahat. Bahkan demi ilmu dia tidak peduli sejauh mana tempat yang harus dia tempuh walau ke negri cina sekalipun dan sifat kritis dan objektivitasnya pun menyebabkan dia tidak melihat siapa yang mengatakan selama yang dikatakannya adalah ilmu dan kebenaran dia akan timba dan resapkan walaupun orang yang mengatakannnya itu, kepalanya gundul kelimis, mukanya rumek, kulitnya gosong seperti orang gunung sekalipun”.
Lagi pula Allah, mempertanyakan kepada diri kita tentang kualitas dan kemuliaan manusia yang berilmu dan yang tidak berilmu itu tidak pernah akan sama (az-Zumar:9). Bahkan dia sadar bahwa Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu itu, lebih tinggi beberapa derajat daripada mereka yang tidak mempunyai gairah keilmuan (al-Mujaadilah:11).

Sikap orang berilmu adalah cara dirinya berhadapan dengan lingkungan. Dia kritis dan mampu melakukan analisis yang tajam terhadap segala fenomena yang berada di sekitarnya, sehingga dia tidak mudah terkecoh atau terjebak oleh gejala-gejala yang tidak didukung oleh persyaratan yang tepat dan benar (faktual) serta proporsional.

Sesungguhnya, bertebaran hadits yang mendorong setiap pribadi muslim untuk obsesif terhadap pemenuhan kebutuhan keilmuan ini. Seandainya sejak dini ditanamkan kepada kita semua bahwa orang yang berilmu itu mulia serta mau menyimak betapa pencapaian ilmu yang pernah diraih oleh para pendahulu kita, niscaya kita akan bertambah khusyu untuk menggali ilmu sebagai citra diri seorang mujahid.

Simaklah beberapa hadits di bawah ini dan resapkan dengan penuh kesungguhan, kemudian hujamkan dalam ingatan bahwa tidak pantas seorang muslimin itu menjadi orang yang bodoh karena buta hatinya untuk menerima ilmu dan hikmah, padahal betapa besarnya penghargaan dan reward (pahala) yang diberikan Allah kepada mereka yang haus dengan ilmu ini, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan jalannya untuk menuju surga. Bahwasanya malaikat itu semua meletakkan naungan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu karena rela terhadap apa yang dilakukannya......
”(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

“Barangsiapa yang keluar untuk menuntut satu bab dari ilmu pengetahuan, ia telah berjalan fi sabilillah sampai ia kembali ke rumahnya.” (HR Tirmidzi dari Anas r.a.)


E. Kesimpulan

"Sumber dari segala macam bencana dan kutukan terhadap umat manusia adalah kebodohan dan ketidakmengertian. Sumber dari tercipnayna peradaban tinggi adalah masyarakat yang menghormati pendidikan dan memiliki ilmu pengetahuan"

Setiap Manusia mempunyai potensi dan kesempatan yang sama untuk bahagia dalam hidupnya. Walau ukuran kebahagiaan manusia tidak bisa disama ratakan, namun secara umum bisa dilihat dari kesuksesan yang diraih selama hidupnya. Kesuksesan tidak bisa didapat begitu saja, butuh perjuangan dan usaha keras. Salah satu yang harus dilakukan untuk mendapat kesuksesan ter - sebut adalah dengan belajar. Belajar, merupakan tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama bagi tiap manusia. belajar, selain membuat pengetahuan yang kita miliki bertambah, kesempatan terbukanya pintu kesuksesan pun semakin lebar.

Lantas bagaimana caranya agar kesuksesan yang ingin dicapai dengan cara belajar tersebut, dapat mudah kita raih ?? Ada beberapa hal yang patut kita ingat, ketika kita sedang belajar untuk menuju kesuksesan yaitu? :

HASRAT KUAT

Belajar tanpa disertai oleh keinginan dan hasrat yang kuat untuk menuju sukses, tak akan berhasil. Karena segala seuatu (termasuk belajar) yang dilakukan tidak dengan sungguh-sungguh, hasil yang dicapaipun akan ala kadarnya. Bila kesuksesan merupakan salah satu proses yang ingin diraih untuk mencapai kebahagiaan, maka mulailah belajar sungguh-sungguh dengan hasrat kuat, keinginan dan harapan yang besar.
Selain keberhasilan tidak akan pernah singgah kepada orang-orang yang berhastar lemah dan tak punya kemauan, tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi bila kita menginginkan itu terjadi Seperti kata pepatah "Siapa yang berpikir dia bisa, maka dia akan bisa menjadi siapapun yang dia inginkan" Ciptakan dan penuhi alam bawah sadar kita dengan hasrat yang kuat untuk meraih harapan.

BERANI BELAJAR

Semua orang pada dasarnya tidak tahu dan tidak mampu. Hanya orang- orang yang berani belajar yang akhirnya akan tahu dan mampu. Ada begitu banyak cara untuk belajar, baik melalui pengalaman diri sendiri pengalaman orang lain, buku-buku bacaan, perenungan, kursus ataupun pelatihan-pelatihan yang ada. Kita tinggal memilih cara belajar yang kita sukai. Namun harus dipastikan bahwa cara belajar yang dilakukan, bisa membuat kita lebih mengerti dan memahami banyak hal. Sehingga kita mampu melihat dan mengetahui bahwa ada banyak cara dan pilihan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
"Saya akan belajar, maka kesempatan akan datang" sunggu tepat apa yang dikatakanAbraham Lincoln tersebut Sebab tanpa belajar, maka segala kemungkinan menuju kesuksesan bisa hilang. Untuk menjadi siri yang selalu belajar (a becoming learling person) diperlukan keberanian dan ketabahan, yang berakibat terbukanya segala kemungkinan untuk kehidupan yang lebih baik.

BERANI BERUBAH
"Learning has not taken place, until behaviour has changed,: belajar tidak akan berarti apa-apa,sampai terjadi perubahan perilaku. Dengan belajar pengetahuan dan ketrampilan kita bertambah. Tetapi pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki tersebut tidak akan berarti apa-apa,jika ketrampilan yang kita miliki tersebut tidak sanggup merubah diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pengetahuan kita akan hemat tidak akan men- jadikan kita kaya kecuali kita berani berubah menjadi orang hemat dan mungkin akan kaya. Pengetahuan kita tentang kerja keras tak akan memberi manfaat, sampai kita berubah menjadi seorang pekerja keras dan meraih keberhasilan.

Setelah kita belajar, kita memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang hal-hal yang kita pelajari. Langkah berikutnya adalah bagaimana kita bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Perubahan itu mungkin terjadi begitu lambat. Bagi orang-orang tertentu hal itu mungkin menjadikannya frustasi sehingga proses belajarpun terhenti ditengah jalan, karena tidak merasa mendapatkan manfaat dari proses belajar. Namun perlu disadari bahwa jauh lebih sulit menerapkan apa yang kita ketahui, dibanding dengan proses belajar untuk mendapatkan pengetahuan itu sendiri. Perubahan kearah lebih baik yang terjadi pada diri kita, walau berjalan secara perlahan, sedikit demi sedikit, hal itu akan sangat besar artinta bagi kesuksesan kita.

Teruslah belajar dan janganlah pernah menyerah, walau kegagalan bisa sewaktu-waktu menghampiri. Gagal bukan berarti mati, tapi gagal berarti ada banyak hal yang harus diperbaiki. Lupakan kata tidak mampu dan tidak mungkin, namun persiapkan fisik dan mental Anda untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.








READ MORE - Ilmu Pembersih Hati Dan Sumber Kekuatan

Bersihkan IMAN dari Penyakit Syirik

Bersihkan IMAN dari
Penyakit Syirik

Sudah menjadi sunatullah seperti halnya ada siang ada malam, ada baik ada buruk ada Adam ada Iblis, demikian pula sampai hari ini ada iman dan ada syirik. Banyak di dapati orang berusaha dengan sengaja membuat iman agar semakin bertambah lemah bahkan lebih dari itu mereka berusaha dengan berbagai jalan agar nilai-nilai Islam, nur cahaya Islam redup, atau cahaya Islam pudar pada diri kita. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah sebagai berikut :

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (Qs At-taubah : 32)

Berbagai cara orang lakukan untuk meredupkan cahaya Islam, paling kurang orang berusaha mendangkalkan citra Islam. Dalam hal ini tidak heran jika setiap perjuangan memang mesti menghadapi ujian dan cobaan. Ketahui pula bahwa dalam mengarungi lautan hidup ini, manusia tak lepas dari percobaan dan ujian. Suka dan duka silih berganti, yang memang sudah menjadi romantika hidup. Tidak ada suatu perjuangan yang tidak menghadapi gangguan dan rintangan. Sudah menjadi ketetapan Allah setiap ada aksi tentu ada reaksi. Demikian pula iman, dimana ada iman, di sana muncul tantangan dan rintangan. Iman tidak akan hidup dan berkembang tanpa ada rintangan. Justru dengan adanya rintangan atau ujian tersebut Allah akan mengetahui siapa orang yang benar-benar beriman sesuai firmannya :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs Al-ankabut : 2-3)

Bahkan diayat lain Allah Berfirman :

Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Qs Muhamad : 31)

Jadi dalam konteks ayat diatas sudah jelas bahwa yang menjadi kunci kita bisa bertahan adalah dengan cara sabar, dalam arti sabar disana bukan berarti diam tetapi terus berusaha/berproses dalam berjihad di jalan Allah serta tetap istiqamah/konsisten terhadap apa yang ia yakini (Madinah). karena seorang yang istiqamah tidak mudah berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya. Dia tetap pada niat semula yaitu mencapai mardhatillah karena tujuan hidup kita adalah mencapai ridha Allah baik di dunia maupun di akhirat . sesuai firman Allah dalam Qs Al-baqarah : 208

Dan dalam ayat lain Allah berfirman :

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs At-taubah : 16)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs Al-ankabut : 29)


Ayat tersebut memberikan nilai optimis yang harus menyugesti diri setiap pribadi muslim bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin (nothing imposible). Cara berfikir kita yang menentukan apakah sesuatu itu merah atau putih, bisa atau tidak bisa. Albert Einstein berkata : “The world we have

Sejarah perjuangan para nabi membuktikan kebenaran hal ini, di mana tampil Ibrahim penegak tauhid, di sana muncul Namrud mempertahankan syirik. Di kala datang Musa membawa ajaran tauhid/iman hanya kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, di sana muncul Fir’aun membawa syirik dengan kepercayaan tukang-tukang sihirnya.

Demikian pula di Mekah tampil Muhammad SAW membawa panji iman, laillaha illallah, “tidak ada Tuhan selain Alla, ia na’bud illa Allah “tidak ada yang diabdi melainkan Allah”, munculah pula Abu Lahab dan Abu Jahal dengan ajaran syiriknya, penyembah berhala dan penyembah patung-patung yang dijadikan sesembahannya. Begitu pula seterusnya para penegak dan pejuang tauhid akan selalu berhadapan dengan pendukung syirik sampai zaman sekarang ini.

Tatkala mereka yang diajak untuk mengikuti apa yang diajarkan dan diberi tuntunan dari Allah, mereka menjawab, kami cukup menurut segala apa yang diajarkan dari nenek moyang kami. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah 170.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".

Tidak ada seorang rasul atau pembawa risalah yang tidak menghadapi tantangan-tantangan di dalam menegakkan iman. Walaupun menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan, namun pendirian dan tujuan tidak berubah, tidak menjadikan lemah. Karena yakin bahwa dengan iman kepada Allah, adalah pangkal dari segala cahaya.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah 257.

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Ketahuilah bahwa meningkatkan taqwa kepada Allah tidak bisa lepas dengan keimanan kepada-Nya. Karena pada dasarnya taqwa itu merupakan konsekuensinya dan perwujudan dari keimanan tersebut. Iman yang benar dan murni (bersih) akan menumbuhkan taqwa yang benar dan murni pula. Sebaliknya iman yang palsu akan menumbuhkan pula keliru dan palsu. Jadi iman dan takwa itu bagaikan satu kesatuan yang utuh sesuai hadist iman itu laksana telanjang, dan pakainnya adalah takwa.

Iman yang bersih dari syirik akan membawa ketentraman dan memperoleh hidayat dan petunjuk. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-An Am (6:82)

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Selama iman kita masih tercampur dengan syirik kepercayaan-kepercayaan selain dari Allah jangan harap akan memperoleh keamanan dan memperoleh petunjuk. Tiga belas tahun Rasullullah saw berjuang dengan segala suka dan duka menanamkan iman. Taat dan beribadah hanya kepada Allah semata dan jauhkan pengabdian kepada thagut.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa thagut itu adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah. At-Thabari dalam kitab tafsirnya menyatakan thagut itu ialah setiap yang sesat, yang durhaka kepada Allah, yang disembah baik ia berbentuk jenis manusia, berhala dan lainnya, baik secara paksa atau sukarela.

Di dalam “Mu’jam Al-Fazhil Qur’an” dikatakan bahwa thagut itu adalah setiap yang disembah selain Allah baik itu berupa syaithan, dukun, tokoh kejahatan atau arwah dan sebagainya. Sedangkan Abu A’ala Al Maududi dalam bukunya “Al-musthalah Al-Arba’ah Fi-Al-Qur’an” ialah setiap pemimpin yang durhaka kepada Allah dan tidak mengikuti kebenaran, kemudian menyuruh rakyat atau bawahannya supaya taat kepada ajarannya, baik secara paksa maupun sukarela, maka orang yang menyerah diri, mengabdi dan taat kepada penguasa, pemimpin yang fasiq tersebut berarti ia menyembah thagut.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah : 60

Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi[424] dan (orang yang) menyembah thaghut?". mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Seorang mu’min yakin bahwa Allah penolong dan pembelanya, dan percaya pula bahwa kekuatan Allah melebihi dari segala kekuatan yang ada di alam raya ini. Seorang mu’min tiada resah da gelisah, tidak merasa rendah diri dan bersedih hati karena mu’min adalah mempunyai kedudukan yang paling tinggi. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat Al-Imran :139.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Marilah kita usahakan agar iman kita bersih dari segala penyakit syirik, baik syirik kecil maupun syirik besar. Dalam salah satu hadist Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa atas kamu ialah syirik kecil. Bertanya para sahabat : Wahai Rasulullah apakah syirik kecil itu? Jawab Rasulullah SAW : Riya. Berfirman Allah Azza Wa Jalla pada hari qiamat. Dikala ia membalasi segala amalan para hambanya, pergilah kamu kepada orang-orang tempat kamu ber-riya di dunia, maka kamu saksikan sendiri, apakah kamu akan memperoleh balasan dari mereka? (H.R. Ahmad, Ibnu Abi Dunia dan Baihaqi).

Dosa lain masih dapat diampunkan, kecuali dosa syirik sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa : 48

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Maka hindarkanlah hasad, syirik dan dengki dalam menjalani kehidupan ini sehingga selalu tercipta hidup damai, bahagia sejahtera dan toleransi serta penuh keimanan yang siap melaksanakan aturan-aturan Allah di dalam semesta.


Penutup

Dari uraian diatas telah jelas diterangkan mengenai Iman dan Syirik maka dari itu kita perlu memahami makna yang terkandung dari iman itu sendiri. Setiap pribadi muslim harus meyakini bahwa nilai iman akan terasa kelezatannya apabila secara nyata dimanifestasikan dalam bentuk amal saleh atau tindakan kreatif dan prestatif. Iman merupakan energi batin yang memberi cahaya pelita untuk mewujudkan indentitas dirinya sebagai bagian dari umat yang terbaik, kuntum khaira uymmah, ukhrijat lin-naasi (Ali Imran : 104).

Karena itu, iman tidak cukup hanya diterjemahkan dengan “percaya atau yakin”, karena bila berhenti pada pengertian “percaya”, Iblis lebih percaya dan berpengalaman daripada kita. Iblis pernah berdialog dengan allah sekaligus menunjukkan pembangkangannya. Ketika Allah menyuruhnya untuk memberikan penghormatan kepada Adam a.s. dalam simbol bersujud, Iblis menantang dan membangkang perintah Allah tersebut (al-Isra : 61, Thaahaa: 116, al-Hijr : 33).
Agar kita tidak sama dengan Iblis, kata Iman harus kita terjemahkan lebih nyata. Harus kita denifisikan secara lebih spesifik. Iman berarti menempatkan diri secara merdeka, membebaskan diri dari segala belenggu ikatan kecuali mengikat diri dengan penuh cinta kepada Allah. Iman merupakan keberpihakan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Itulah sebabnya, kalimat tauhid sebagai bentuk keimanan yang dinyatakan dalam pernyataan laa ilaaha illallah ‘tiada tuhan kecuali Allah’ merupakan bentuk pernyataan dinamis yang mempersetankan segala ilah kecuali hanya Allah. Kalimat tauhid tersebut diteruskan dengan kesaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah yang kemudian menjadi dasar utama yang mempengaruhi seluruh kehidupannya, jiwa raga, sikap, dan perilaku seorang muslim di mana pun mereka berada. sebagaimana Nabi pernah bersabda,

“Yang dinamakan iman itu ialah apabila kau meyakini di dalam hati, menyatakannya dengan lidah, dan melaksanakannya dengan perbuatan.” (al-Hadits)

Kiranya harus kita garis bawahi ucapan Rasulullah terakhir, yaitu melaksanakannya dengan perbuatan yang berarti ada gerakan aktif untuk mewujudkannya. Al-Qur’an sendiri mengukir kata aamanuu sebanyak 285 kali yang sebagian besar dirangkaikan dengan kata kerja ‘amiluush-shaalihat’ yang mengerjakan amal saleh’. Iman tanpa amal saleh adalah kebohongan!
Lebih dari itu, Allah memberikan isyarat bahwa mereka yang hanya berkata “aku beriman”, tetapi tidak konsekuen dalam perbuatannya termasuk dalam kategori yang sangat dimurkai Allah (kabura maqtan indallah [ash-Shaff : 3]).

Iman merupakan napas keberpihakan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bentuk keberpihakan itu hanya dapat kita lihat dari segi amalnya. Iman dan amal bagaikan dua sisi mata uang yang satu mengesahkan yang lainnya. Iman merupakan fundamen dari segala bangunan yang akan didirikannya. Iman adalah wadah yang akan menampung segala isinya yang sesuai.
Lihatlah sebuah gelas! Bagaimana Anda menyebut gelas itu bila diisi dengan susu? Tentu saja akan akan disebut segelas susu. Bila susunya kita buang lalu diganti dengan racun, bagaimana Anda menyebut gelas tersebut? Pastilah segelas racun! Yang memberikan nilai atau nama tersebut ternyata adalah isinya. Betapapun gelas tersebut dibuat dari intan atau logam mulia, tetap saja dia akan disebut berdasarkan apa isinya. Kalau kosong tanpa isi, ya namanya pun disebut sebagai gelas kosong!

Walaupun gelas tersebut diberi merek International Quality, bila diisi dengan racun, ya tetap namanya segelas racun yang ditampung gelas yang bermerek international. Kalau begitu, mungkinkah ada seseorang yang mengaku muslim, tetapi perilakunya kafir?
Sadarlah sekarang bahwa iman adalah wadah, jasad adalah alat, perbuatan adalah isi! Iman dan Islam bukan sekedar knowledge atau pengetahuan. Kita tidak cukup hanya sampai pada batas “saya tahu”, tetapi harus diteruskan dengan “saya berbuat”.















READ MORE - Bersihkan IMAN dari Penyakit Syirik